PDA

View Full Version : Fooball Tragedy [forever Remembered]


rondwisan
01-08-2009, 10:06 AM
nobitanta wrote:

Selamat Jalan buat Antonio Puerta, semoga diterima disisi-NYA. Amiin

Gue emang ga terlalu tau tentang pemain ini, tapi sedih aja mendengar kabar seorang pesepakbola meninggal dunia, apalagi dia masih muda. Hix hix :wew

http://www.liputanbola.com/files/pic/img_antonio_puerta-1.jpg

Puerta Tutup Usia
2007-08-28 21:57:43

Antonio Puerta (© AFP 2007) Seorang pesepakbola kembali meninggal dunia sehabis bertanding di lapangan. Gelandang Sevilla, Antonio Puerta tutup usia pada umur yang masih relatif muda untuk ukuran pemain, 22 tahun, setelah tiga hari tidak sadarkan diri di rumah sakit.

Puerta mendapat perawatan intensif setelah tersungkur ketika memperkuat timnya saat berhadapan dengan Getafe pada laga perdana La Liga Spanyol musim ini, Sabtu (25/08) atau Minggu dinihari—WIB.

Puerta kolaps ketika pertandingan di Stadion Ramon Sanchez Pizjuan baru berjalan 35 menit. Dia mampu berjalan keluar lapangan namun kembali tidak sadarkan diri ketika berada di kamar ganti. Selanjutnya Puerta dilarikan ke rumah sakit.

Terbaring koma di RS Virgen del Rocio, Puerta tak terselamatkan. Dia menghembuskan nafasnya pada Selasa, 28 Agustus atau tiga hari setelah terbaring tanpa daya. Seperti dilansir Reuters, pihak rumah sakit telah mengeluarkan konfirmasi tentang berita duka ini. Kejadian ini tentunya menjadi tamparan buat Sevilla yang baru tiga pekan lalu memeriksakan kesehatan gelandang internasional Spanyol tersebut, 1 caps.

Menurut media Spanyol, atas berita duka in, Asosiasi Sepakbola Eropa (UEFA) telah menyetujui untuk menunda pertandingan leg kedua putaran ketiga babak kualifikasi Liga Champions antara Sevilla versus AEK Athens. Pertandingan itu sedianya akan dilangsungkan Selasa atau Rabu dinihari (29/08) ini.

Masih menurut Reuters, juru bicara AEK menginformasikan jadwal pertandingan diubah dan beru akan dilangsungkan pada Senin, 3 September. Pengunduran itu membuat pertandingan Sevillistas lainnya harus mengalami perubahan, yaitu partai lanjutan La Liga melawan Osasuna yang sejatinya bermain pada hari Senin.

Puerta menjadi pesepakbola kesekian kali yang harus menghembuskan nafas terakhirnya akibat serangan jantung ketika memperkuat timnya dalam pertandingan resmi. Kejadian yang sama sebelumnya menimpa gelandang internasional Kamerun yang bermain untuk Manchester City, Marc Vivien Foe dan striker internasional Hungaria, Miklos Fehrer ketika memperkuat klubnya, Benfica.

http://www.liputanbola.com/laliga/news-detail.php?id=10643

rondwisan
01-08-2009, 10:08 AM
ya ampun masi muda bgt ya.. ini salah satu bukti kalo kematian bisa dtg kapan aja..

Selamat jalan Puerta.. any review about him?

sebelum ini ada 2 pemain bola nyang meninggal di lapangan, cmiiw
blom lagi pesepak bola kolombia nyang tewas di tembak di kampung halamannya setelah sempat bikin gol bunuh diri saat world cup di USA 1990
catatan kelam tragedi dalam sepak bola tentunya tidak bisa kita hindari, sejarah Manchester United sendiri dengan tragedi Munich-nya
belum lagi tragedi Heysel yang menorehkan duka cukup mendalam di hati para penggila bola

kali ini satu lagi pesepak bola harus berpulang ke pangkuan-Nya, 3 hari setelah koma saat berlaga di La Liga

selamat jalan Puerta

Champions League tie postponed due to Puerta death

Written by: AFP

Sevilla defender Puerta, 22, died on Tuesday having intially suffered a heart attack during Sevilla's 4-1 league win over Getafe on Saturday.

According to UEFA Sevilla will return to Athens to play the second leg of their Champions League qualifier against AEK on Monday, September 3.

However the Spanish side, the reigning UEFA Cup champions, look likely to play their scheduled European Super Cup match against reigning Champions League winners AC Milan this Friday in Monaco.

UEFA spokesman William Gaillard said Tuesday: "Sevilla requested that they be allowed to return home and in the circumstances we could only grant that request."

He added: "In theory the Super Cup match will be held as planned, and will be played in homage to Puerta this Friday in Monaco."

wah tragedi juga nich,, baru umur 22, udah kena serangan jantung,, kasihan juga yah doi...

Good Bye Puerta,,

huhuhu...:wew :wew
kemarin sempat liat di lensor, gw pikir everything gonna be alright..
but, tadi pagi liat berita lagi, ternyata puerto, pemain muda berbakat spanyol, telah meninggal dunia..
goodbye puerto..

Spanyol, Catalan, Sevilla berduka.......

http://cache.gettyimages.com/xc/76363855.jpg?v=1&c=NewsMaker&k=2&d=17A4AD9FDB9CF193C1A11C22297C79F5186DF780E3972FDF

Puerta....pemain muda spanyol dengan skill yang :top
sempat dibidik ama SAF untuk mengisi posisi uncle keano.....

Berita yang menyedihkan.....setelah marc vivian foe di man city, kembali satu pemain lagi harus tutup usia dilapangan hijau....
Selamat jalan Puerta..... Dunia persepakbolaan kembali berduka

selamat jalan Puerta. Gile masih muda banget nih org 22 thn. Perjalanan karir masih panjang tuh harusnya. Btw, ada yg tau jadwal Sevilla vs Milan diundur jg apa kagak ?

...........................................

rondwisan
01-08-2009, 10:14 AM
Mereka Tewas di Lapangan Hijau
Doni Wahyudi, detikSport - 29/08/2007 07:01 WIB

Jakarta - Ibarat perang, pertandingan sepakbola memperjuangkan kebanggaan, harga diri tentu saja demi sebuah kemenangan. Tak ubahnya medan tempur, lapangan hijau pun kadang meminta korban jiwa.

Antonio Puerta adalah pesepakbola terakhir yang harus tutup usia di bawah panji-panji klub sepakbola. Gelandang Sevilla berpaspor Spanyol itu meninggal dunia Selasa (28/8/2007) di rumah sakit Virgen del Rocio setelah sempat dirawat tiga hari akibat serangan jantung saat berlaga di Liga Spanyol.

Puerta yang 26 November nanti berusia 23 tahun bukan pesepakbola pertama yang meninggal dunia saat melakoni profesinya. Dalam dua dekade terakhir beberapa pesepakbola pun bernasib sama.

http://www.sic.pt/NR/rdonlyres/BBD4DC34-C28D-462C-A492-5AF5BE95865D/58045/hugocunha.jpg

Dua tahun lalu, tepatnya bulan Juni 2005, Hugo Cunha yang memperkuat Uniao Leiria di Super Liga Portugal pingsan dan meninggal dunia saat melakukan latihan bersama rekan-rekannya.

Sementara di Oktober 2004, Sao Caetano yang berlaga di Liga Brasil harus kehilangan Serginho. Pemain yang beroperasi sebagai bek itu diduga tewas karena gangguan jantung dan pernapasan saat bertanding menghadapi Sao Paulo di Liga Brasil.

Masih dari Brasil, setahun sebelumnya Maximiliano Patrick Ferreira tutup usia di rumah sakit setelah mengaku sakit saat melakukan latihan bersama klubnya Botafogo-Ribeirao Preto. Samba lain yang tewas adalah Marcio Dos Santos, striker 28 tahun itu meninggal dunia satu jam setelah mencetak gol untuk Deportivo Wanka di Liga Peru tahun 2002.

Dari tanah Eropa, duka sempat menyelimuti Benfica saat striker Hungaria, Miklos Feher tewas akibat serangan jantung. Dia tewas dalam pertandingan Liga Portugal saat Benfica menjamu Vitoria Guimaraes.

http://www.index.hr/images2/MarcVivienFoe45V.jpg

Kasus kematian yang paling mengejutkan terjadi pada pesepakbola Kamerun Marc-Vivien Foe yang tewas saat negaranya unggul 1-0 atas Kolumbia di Piala Konfederasi yang digelar di Lyon, Juni 2003. Foe yang sempat memperkuat West Ham United, Manchester City dan Olympique Lyon pingsan di tengah pertandingan dan tewas beberapa saat kemudian.

Serangan jantung cukup mendominasi sebab kematian pesepakbola. Kematian striker York City, Dave Longhurst (25 tahun) dua menit sebelum turun minum saat menghadapi Lincoln City tahun 1990 juga karena gangguan pada jantungnya.

Hal mana juga terjadi pada Samuel Okwaraji tewas saat membela Nigeria menghadapi Angola di kualifikasi Piala Dunia tahun 1989.

Di tanah air kematian pesepakbola juga pernah terjadi. Pada 3 April 2000, Eri Irianto menghembuskan napas terakhirnya di rumah sakit setelah pada sore harinya ia tiba-tiba menderita sakit saat Persebaya menjamu PSIM di Liga Indonesia 1999/2000.

rondwisan
01-08-2009, 10:16 AM
http://newsimg.bbc.co.uk/media/images/44100000/jpg/_44100931_chasweburial270.jpg

Zambian striker dies during training session
Last updated at 21:07pm on 29th August 2007 - DailyMail

Zambian striker Chaswe Nsofwa of Israeli second division side Hapoel Beer Sheva collapsed and died during a practice match in the southern desert city on Wednesday.

Nsofwa, 27, was pronounced dead at Beer Sheva's Soroka Hospital after resuscitation efforts on the pitch failed to revive him, the Magen David Adom (MDA) ambulance service said.

"We found the player lying on the ground unconscious as his friends tried to help him. He was in a state of clinical death," ambulance worker Carmel Cohen told Israel Radio.

Cohen added that despite efforts which lasted 40 minutes, the player was rushed to hospital where he was pronounced dead.

Nsofwa, who was part of Zambia's African Cup of Nations squad in 2002, scored two goals for Hapoel in their 3-0 win over Hakoah Amidar/Ramat Gan at the weekend.

He is the second young footballer to die this week and the third to collapse while playing or training.

Spanish international wingback Antonio Puerta of Sevilla collapsed during the opening league match of the Spanish season against Getafe on Saturday and died on Tuesday following complications as a result of a heart attack.

On the same day that Puerta died, Leicester City defender Clive Clarke collapsed during the halftime break of his side's English League Cup match against Nottingham Forest and was rushed to hospital.

The match was abandoned at halftime but the latest diagnosis on the Irish international was that he should make a full recovery.
---------------------------
Belum selesai dunia persepakbolaan dikagetkan dengan meninggalnya puerta, Ini ada korban lagi di lapangan hijau :sedih Turut Berduka untuk Antonio Puerta dan Chaswe Nsofwa. Untung Clive Clarke (pemain leicester) yang juga collapse di lapangan hijau dapat diselamatkan
Harus diambil tindakan nih, kenapa banyak korban berjatuhan karena serangan jantung :?

rondwisan
01-08-2009, 10:18 AM
nokidding wrote :

Bisa jadi bakalan nambah pre-test sebelum pertandingan, selain test urine.... bagi yg kedapetan jantungnya tidak berdetak tidak akan diperbolehkan bermain........:nyampah
================================================== =======
Perlunya Pemeriksaan Jantung Secara Reguler (liputanbola.com)

Duka tengah melanda dunia sepakbola. Dalam 10 hari terakhir, dua pemain: bek Sevilla, Antonio Puerta, dan mantan striker Zambia, Chaswe Nsofwa: menghembuskan nafasnya yang terakhir dan seorang pemain lainnya, bek Leicester City, Clive Clarke, nyaris bernasib serupa. Sepekan sebelumnya, pesepakbola muda Walsall, Anton Reid, 16 tahun, yang tengah menjalani latihan tiba-tiba pingsan dan menemui ajalnya di lapangan.

Kondisi itu memicu dilakukannya proses pemeriksaan jantung kepada setiap pemain sepakbola di seluruh dunia secara berkala. Hal itu diungkapkan Prof. Jiri Dovak, Ketua Tim Medis FIFA.

Divak yang mengawasi dilakukannya screening jantung kepada setiap pesepakbola yang berlaga di PD 2006 lalu, mengatakan, “Sebelum Piala Dunia, dengan dukungan Komite Medis FIFA, kami ingin memberikan pesan kepada seluruh pesepakbola profesional, bahwasanya pemeriksaan jantung seharusnya menjadi hal yang wajib untuk dilakukan.”

Dvorak menambahkan dalam setiap tahunnya terjadi seribu kasus kematian—gara-gara gangguan jantung—terhadap para atlet. “Itu terjadi karena banyaknya penyakit bawaan. Jika seseorang ingin menjadi seorang atlet profesional, ia seharusnya waspada (terhadap risiko gangguan pada janrungnya). Di Italia, pemeriksaan jantung itu telah rutin dilakukan. Karenanya, (di Italia) jarang terjadi kasus kematian seorang atlet karena gangguan jantung. Memang, itu bukan jaminan. Tapi, setidaknya, langkah itu berguna untuk mengurangi risiko,” tegas Dvorak seperti yang dikutip Daily Telegraph.

Kubu Sevilla memberi konfirmasi Puerta meninggal setelah “lima kali detak jantungnya berhenti”. Sementara, menurut agennya, Gary Mellor, Clarke yang pingsan di waktu jeda putaran kedua Carling Cup melawan Nottingham Forest, dua kali “jantungnya berhenti”. Untungnya, tim medis bergerak cepat dengan menggunakan defibrillator. Kondisi (jantung) Clarke pun kembali normal.

Komentar Dvorak mendapat dukungan dari Dr. Craig Panther, spesialis Pure Sports Medicine, rekanan klub-klub Liga Premier. “FIFA harus mengambil kebijakan untuk menyikapi kondisi tersebut. Tindakan pemeriksaan jantung secara reguler telah terbukti berhasil mengurangi kematian karena kegagalan jantung,” tegas Panther.

Berikut para pemain yang meninggal karena penyakit (kegagalan) jantung.
Antonio Puerta:
bek Sevilla, 22 tahun, meninggal tiga hari sesudah (sempat) pingsan dalam laga La Liga melawan Getafe, Sabtu, 25 Agustus.
Chaswe Nsofwa:
27 tahun, mantan striker Zambia, pingsan dan meninggal ketika mengikuti sesi latihan bersama klubnya, Hapoel Beersheba (Israel). Saat itu suhu udara mencapai 40 derajat Celcius.
Hugo Cunha:
gelandang Uniao Leiria (Portugal), 28 tahun, Juni 2005.
Serginho:
bek Sao Caetano (Brasil), 30 tahun, meninggal saat laga Piala Brasil melawan Sao Paulo, Oktober 2004.
Miklos Feher:
24 tahun, pemain asal Hungaria meninggal pada Januari 2004 saat memperkuat klubnya, Benfica bertanding melawan Vitoria Guimaraes.
Max Ferreira:
20 tahun, pemain Botafogo (Brasil) meninggal di rumah sakit pada Juli 2003.
Marc-Vivien Foe, 28 tahun, meninggal di lapangan saat laga Kameruin vs Kolumbia, Juni 2003.
Marcio Dos Santos:
28 tahun, Brasil, meninggal beberapa jam—gara-gara gagalnya jantung—setelah bertanding bersama klubnya Deportivo Wanka (Peru).
Dave Longhurst:
25 tahun, pemain The York City, meninggal pada September 1990. Sebelumnya, Longhurts dua menit pingsan di lapangan.
Samuel Okwaraji:
24 tahun, meninggal pada Agustus 1989, sebelum berakhirnya pertandingan babak kualifikasi PD 1990 antara Nigeria vs Angola.

rondwisan
01-08-2009, 10:20 AM
ada satu lagi yaa ... :wew
turut berbela sungkawa yaa ..., kmrn waktu ManCity vs LFC, dah pake ban item di lengan yaa
___________________________________

LiputanBola.com - 2007-12-30 03:02:06
Satu Lagi, Pemain Tumbang dan Tewas

http://img.dailymail.co.uk/i/pix/2008/01_01/collapse1MOS3112_468x397.jpg

Berita duka cita kembali menyelimuti dunia sepakbola. Kapten Motherwell, Phil O’Donnell meninggal dunia setelah tumbang (kolaps) di lapangan saat timnya memimpin 5-3 atas Dundee United dalam lanjutan Liga Premier Skotlandia, Sabtu, 29 Desember.

Berita tragis atas meninggalnya O’Donnell, 35 tahun, dikonfirmasi oleh Chairman Motherwell, Bill Dickie. O’Donnell sejatinya ditarik keluar untuk digantikan oleh rekannya Marc Fitzpatrick. Namun takdir berbicara lain. Ketika itu juga, sebelum melangkah keluar lapangan ia tumbang di atas rumput.

Sontak saja tim medis menandunya keluar lapangan. Ia sempat mendapat penanganan pertama sekitar lima menit sebelum ambulan membawanya keluar dari Fir Park Stadium, kandang dari Motherwell. Seperti dilansir BBC, tidak disebutkan dimana O’Donnell menghembuskan bafas terakhirnya. Atau, apakah ia meninggal di perjalanan atau di rumah sakit?

“Sungguh sangat disesalkan saya harus mengkonfirmasi kabar yang sangat menyedihkan atas hilangnya nyawa Phil O’Donnell. Kami belum tahu apa sebab musababnya. Setelah visum dan proses pemeriksaan lain mungkin akan ketahuan apa yang terjadi,” ujar Dickie. Yang pasti, “Ini sebuah kejadian tragis.”

O’Donnell memulai karir profesionalnya di Motherwell. Ia sempat bergabung ke Celtic dan klub Inggris, Sheffield Wednesday sebelum akhirnya kembali ke klub pertamanya pada 2004. Ia juga sudah mengoleksi satu pertandingan internasional bersama Timnas Skotlandia di tahun 1993 ketika beradapan dengan Swiss. Sejak 2006 ban kapten menjadi langganan di lengannya.

Di skuad Moherwell juga tergabung keponakan O’Donnell, David Clarkson yang juga bermain pada pertandingan itu. Tapi, Clarkson tidak berada di tengah lapangan karena sebelumnya ia sudah ditarik keluar oleh manajer Motherwell, Mark McGhee.

O’Donnell menambah daftar pemain yang harus meregang nyawa di lapangan atau setelah kolaps ketika aktif bermain. Agustus lalu, dunia sepakbola juga berduka atas meninggalnya pemain Sevilla asal Spanyol, Antonio Puerta. Dari dalam negeri, meninggalnya Eri Erianto pada tahun 2000 juga turut membuat miris kematian pemain yang mayoritas disebabkan gagal jantung.

rondwisan
01-08-2009, 10:23 AM
bendera setengah tiang kembali harus dikibarkan di dunia persepakbolaan nih ...
__________________________________________________ __

detikSport - 12/02/2008 01:15 WIB
Lagi, Pemain Tewas di Lapangan



Libreville - Kasus kematian pesepakbola di tengah pertandingan kembali terulang. Adalah pemain tim nasional Gabon, Guy Tchingoma, yang kali ini meregang nyawa ketika berlaga di lapangan.

Terakhir kapten klub Motherwell, Phil O'Donnell, meninggal dunia saat bertanding melawan Dundee United di Liga Skotlandia, 29 Desember 2007. Gagal jantung disinyalir menjadi penyebab kematian O'Donnell saat itu.

Tak sampai dua bulan, korban kembali jatuh. Tcinghoma yang baru berusia 21 tahun tewas di lapangan ketika timnya, FC 105 Libreville, bertanding melawan US Mbiliandzami, Sabtu (9/2/2008). Seperti diberitakan Yahoosports, Tchingoma kolaps setelah bertabrakan dengan salah seorang pemain lawan.

Ketiadaan tim medis di lapangan membuat Tchingoma lantas dilarikan ke rumah sakit dengan bus tim. Namun, dirinya menghembuskan napas terakhir ketika tiba di rumah sakit tersebut dan hingga saat ini belum diketahui secara pasti penyebab kematiannya.

Tcinghoma lahir di Pointe Noire, Kongo, namun ia mendapat kewarganegaraan Gabon sehingga dia bisa bermain untuk timnas negara barunya itu. Ia melakukan debutnya untuk timnas Gabon pada September 2007 di Libbreville ketika berhadapan dengan Pantai Gading di babak kualifikasi Piala Afrika.

Tchingoma menjadi pemain asal benua Afrika ketiga yang meninggal dalam beberapa tahun terakhir. Tahun 2003, pemain asal Kamerun, Marc-Vivien Foe meninggal ketika tengah berlaga di Piala Konfederasi. Tiga tahun setelah itu giliran Mohamed Abdelwahab yang meregang nyawa. Bedanya, ia tidak meninggal sewaktu bertanding melainkan ketika tengah berlatih bersama klubnya, El-Ahly.

rondwisan
01-08-2009, 10:25 AM
nokidding wrote:


1 minute silent...........dimulai.......................... ....................selesai..........
================================================== ========
Terbentur Kepala, Pemain Kroasia Tewas (okezone.com)

ZAGREB - Dunia sepakbola Kroasia tengah berduka. Winger Zadar, Hrovje Custic tewas setelah kepalanya terbentur tembok, ketika berlangsung kompetisi liga pekan lalu.

Kejadian itu berlangsung sangat cepat. Custic yang tengah berusaha mengambil bola tiba-tiba terpeleset keluar lapangan dan seketika kepalanya membentur tembok yang jaraknya dua meter dari garis batas lapangan.

Seketika tim medis membawanya ke rumah sakit dan sempat memberikannya perawatan operasi. Tapi takdir berkata lain. Custic harus menyerah kepada nasib dan meregang nyawa setelah bertarung dengan maut selama lima hari.

"Custic tewas akibat cedera otak yang serius," ungkap pernyatan dokter rumah sakt yang merawat Custic, seperti dilansir AP, Kamis (3/4/2008).

Selain Zadar, Custic juga pernah membela klub lokal Kroasia, Hajduk Split, dam FC Zagreb.

rondwisan
01-08-2009, 10:28 AM
CATATAN SEDIH DALAM SEJARAH SEPAKBOLA

Dunia sepakbola saat ini telah menjadi santapan bagi jutaan umat manusia diseluruh penjuru bumi, photo-photo sang bintang lapangan hijau mewarnai hampir disemua media cetak, berita perkembangan klub sepakbola yang didukung ditunggu-tunggu, malah sepakbola saat ini sepertinya hampir mewarnai semua media cetak dan elektronik.

Namun sukses sebuah team sepakbola, tidak selamanya tanpa cacat sejarahnya, cacat dalam arti tragedi yang pernah menimpa team tersebut maupun pendukung team tersebut.

di thread ini gw ingin sekedar berbagi informasi dan bila ada pendapat dari rekan2 semua prihal tragedi tersebut atau tragedi2 lain yang mungkin bisa rekan2 share untuk menambah wawasan pengetahuan kita akan sepakbola.

Tapi tolong diingat bahwa kita mengenang mereka yang kehilangan nyawanya demi sepakbola bukan membahas siapa benar atau salah.

tujuan thread ini adalah murni menciptakan awareness atau kesadaran pada diri kita masing2, bahwa kekeresan bukanlah jawaban untuk segalanya dan nyawa manusia bukanlah hal yang murah serta mengenang semua korban dan menghormati keluarga korban yang kehilangan nyawanya/sanak keluarganya demi sepakbola yang begitu kita cinta.

ma'af kalau udah ada thread seperti ini sebelumnya

-------------------------------------------------------------


MUNICH TRAGEDY - MANCHESTER UNITED (6 February 1958)

http://i34.tinypic.com/2rq0y95.jpg

Pada jam 3:04pm ditengah kerasnya badai salju di airport munich-riem Jerman barat, sebuah pesawat British European Airways dengan tipe Airspeed AS-57 Ambassador akhirnya jatuh dan menewaskan 23 dari 45 penumpang yang dibawanya setelah sebelumnya gagal take-off sebanyak dua kali sebelum akhirnya jatuh pada percobaan ke-tiga .

diantara ke 23 korban yang meninggal, delapan diantranya adalah pemain sepakbola Manchester United yang hendak kembali ke Manchester setelah melakukan pertandingan melawan Red Star Belgrade pada kompetisi Eropah yang berakhir dengan skor 3-3, namun hasil yang cukup untuk membawa Manchester United masuk ke semi-final.

Pesawat carter naas tersebut yang berangkat dari Yugoslavia dengan tujuan Manchester melakukan re-fueling atau pengisian bahan bakar di Munich, Jerman barat tempat lokasi kejadian naas tersebut. Setelah sebelumnya dua kali gagal untuk take off dikarenakan pesawat tidak dapat mencapai kecepatan yang dibutuhkan untuk take off karena tebalnya salju yang menutupi runway pesawat tersebut. pada percobaan ketiga akhirnya pesawat jatuh dan menabrak pagar yang mengelilingi Airport serta sebuah rumah dan garasi rumah yang berisikan sebuah kendaraan, dan bahan bakar yang kemudian meledak menghancurkan pesawat hingga terbelah.

Berikut ini adalah daftar pemain Manchester United yang kehilangan nyawanya pada 6 February 1958 di Munic, Jerman Barat

1. Roger William Byrne (8 February 1929 - 6 February 1958)
salah satu Kapten Manchester United yang masuk dalam daftar Legenda Kapten United, Roger William Byrne merupakan sosok pemimpin bagi The Busby Babes di lapangan, bermain pada posisi Sweeper atau Full Back, Roger Byrne memiliki etiket kerja yang sangat bagus dan determinasi yang tinggi pada saat bertanding. Roger Byrne juga merupakan pemain regular bagi tim nasional Inggris dengan mengantongi 33 kali pertandingan membela The Three Lions dan seharusnya telah dipersiapkan menjadi kapten timnas Inggris pada piala dunia 1958. Byrne meninggal dunia meninggalkan isterinya yang sedang mengandung putranya.

2. Geoff Bent (27 September 1932 - 6 February 1958)
Pria kelahiran Salford, Lanchsirre ini merupakan cadangan bagi Roger Byrne dan dibawa ke Yugoslavia untuk melawan Red Star Belgrade sebagai cadangan langsung bagi Byrne yang diperkirakan tidak akan bisa bermain karena cedera (namun akhirnya Byrne tetap bermain). Bergabung bersama Manchester United pada Agustus 1948, Jeffrey Bent merupakan seorang defender yang dapat diandalkan ketika harus menggantikan mengisi posisi kapten Byrne. Geoff Bent meninggalkan isteri dan seorang putri berumur 4 bulan pada saat itu.

3. Eddie Coleman (1 November 1936 - 6 February 1958)
Bergabung bersama Manchester United pada tahun 1952 bersama United Youth Team, Coleman telah mengantongi 107 pertandingan membela United dan mencetak dua gol, satu diantaranya adalah ketika melawan Red Star Belgrade pada perjalanan naas tersebut yang berakhir 3-3. Eddie Coleman bermain untuk United sebagai Wingger.

4. William Augustine "Billy/Liam" Whelan (1 April 1935 - 6 February 1958)
Merupakan seorang striker muda yang handal bagi Manchester United, bergabung bersama Manchester United pada Agustus 1955 dan membela United sebanyak 98 kali penampilan "Billy" telah mencatatkan 52 gol bagi Manchester United dan merupakan regular first team bagi Manchester United dan Tim Nasional Irlandia. Sesaat sebelum kejadian naas Munich, Liam Whelan tercatat sempat mengucapkan "Bila ini akhir perjalanan hidup saya, maka saya sudah siap!"

5. Tommy Taylor (29 January 1932 - 6 February 1958)
Seorang Striker bagi Manchester United dengan memiliki 166 penampilan bagi Manchester United sejak 1953-1958 dan mengemas total 112 gol bagi United dan dipandang sebagai salah satu striker legenda United dan The Three Lions (membela Inggris sebanyak 19 kali dan menyumbangkan 16 gol). Pemain yang dianggap terbaik pada masanya di Inggris menjadi incaran banyak klub eropah, salah satunya adalah Inter Milan. Tommy Taylor meninggal dunia pada kejadian naas Munich berumur 26 tahun dan sedang bertunangan dengan kekasihnya, Carol.

6. David Pegg (20 September 1935 - 6 february 1958)
Merupakan Left Wingger United yang berbakat dan dinilai sebagai talenta untuk masa depan United dan Inggris, David Pegg bergabung bersama Manchester United pada tahun 1952 dan telah membela United sebanyak 127 kali penampilan dan mengemas 24 gol bagi United. David Pegg merupakan salah satu korban termuda yang meninggal pada tragedi Munich tersebut, David Pegg meninggal dunia diusia 22 tahun.

7. Mark Jones (15 Juni 1933 - 6 February 1958)
Berperan sebagai Central Defender Manchester United, Mark Jones telah membela United sebanyak 103 kali penampilan dan menyumbangkan 1 gol sejak bergabung dengan United pada tahun 1950

8. Duncan Edwards (1 Oktober 1936 - 21 February 1958)
Duncan Edwards, walau berhasil lolos dari maut pada tanggal 6 February 1958, berada dalam kondisi yang sangat kritis dan akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya di rumah sakit Recht der Lsar di Jerman Barat, jenazahnya kemudian dibawa kembali dan dimakamkan di pemakaman Dudley di Worcestershire, UK.

Duncan Edwards mungkin merupakan salah satu pemain muda terbaik hasil akedemi United saat itu bersama Denis Viollet dan Jackie Blanchflower, yang lebih dikenal sebagai "The Busby Babes", Duncan Edwards merupakan hasil dari akademi Manchester United dan merupakan pemain termuda yang bermain di liga utama (pada saat itu First Division), Duncan Edwards melakukan penampilan debutnya untuk United's First Team pada tanggal 4 April 1953 melawan Cardiff City dimana United kalah 4-1, Edwards pada saat itu baru berumur 16 tahun 185 hari dan hingga kini tercatat sebagai pemain termuda pada the Old Division One. Edwards sejak 1953 telah membela United sebanyak 177 kali penampilan dan menyumbangkan 23 gol bagi United.


Korban Manchester United lainnya termasuk

1. Walter Crickmer - Sekretaris Club MUFC
2. Tom Curry - Pelatih
3. Bert Whalley - Chief Coach

Korban Munich lainnya

1. Kapten Kenneth Rayment
2. Tom Cable
3. Bela Miklos
4. Willie Satinoff
5. Frank Swift
6. Eric Thompson
7. Henry Rose
8. Archie Ledbrooke
9. Tom Jackson
10. George Follows
11. Donny Davies
12. Alf Clarke

Monggo, silahkan ditambahkan infonya....








setuju bang, tragedi yang telah terjadi diharapkan menjadi pembelajaran berharga bagi semua pencinta sepakbola.


.............................

rondwisan
01-08-2009, 10:34 AM
WORLD CUP 1994 - USA [THE ANDRES ESCOBAR MURDER]

http://news.bbc.co.uk/olmedia/1840000/images/_1842805_escobar300.jpg

Andres Escobar Saldarriaga (13 Maret 1967 - 2 July 1994)

Andres Escobar, defender Colombia, mungkin lebih dikenal oleh seluruh dunia setelah tragedi pembunuhan atas dirinya oleh seorang bodyguard yang merupakan pendukung Colombia yang kecewa atas gagalnya Colombia lolos ke babak Knock-Out stage Piala Dunia 1994 karena gol bunuh diri Escobar.

Colombia yang pada saat itu merupakan salah satu team yang diprediksikan oleh beberapa pihak pundit dan sebagian besar rumah taruhan sebagai team yang memiliki peluang lolos dari babak group stage yang berisikan Romania, Swistzerland dan Amerika Serikat, terpaksa mengecewakan semua pihak oleh karena gol bunuh diri Andres Escobar ketika menghadapi Amerika Serikat, dimana Colombia kalah 2-1 dari Amerika.

Gol Bunuh diri Escobar tersebut berujung dengan terbunuhnya Andres Escobar di kota Medelin, Colombia oleh seorang fans Colombia yang merasa kecewa.

Pria bernama Humberto Munoz Castro, yang bekerja sehari-hari bekerja sebagai seorang bodyguard menembakkan 12 peluru ke tubuh Andres Escobar sepulangnya Escobar dari Amerika Serikat setelah Colombia gagal lolos ke babak Knock-Out. Saksi yang menyaksikan pembunuhan Escobar didepan sebuah Cafe mengatakan bahwa si penembak Escobar berteriak "Goooooolll" setiap kali menyarangkan sebuah peluru di tubuh Escobar. Andres Escobar menghembuskan nafas terakhirnya di tempat kejadian.

Humberto Munoz Castro dihukum penjara selama 43 tahun setelah terbukti bersalah oleh pengadilan Colombia, hukuman tersebut kemudian dikurangi menjadi 26 tahun setelah pihak Humberto Castro mengajukan banding dan akhirnya Humberto Castro dibebaskan setelah menjalankan 11 tahun hukuman penjara karena berkelakuan baik selama 11 tahun didalam tahanan.

Hingga saat ini nomor punggung Andres Escobar - Nomor 2 - diabadikan di team nasional Colombia dan di klub Medelin Atletico Nacional, klub terakhir yang dibela oleh Escobar.

Andres Escobar juga dikenal dengan julukan "El Caballero de Futbol" atau Pria terhormat sepakbola atau pahlawan sepakbola.

Source: FIFA.com ; Wikipedia.com; News.BBC.co.uk

Tragedi Superga

sebelum tanggal 4 Mei 1949, Torino adalah salah satu klub tersakti di kolong langit sepakbola Italia. Saking jagonya, klub itu menyumbang nyaris setengah pemain untuk tim nasional Italia. Torino juga memanangi empat kali juara liga secara beruntun mulai tahun 1946 sampai 1949. Tapi semua itu lenyap dalam sekejap. Tanggal 4 Mei 1949, nyaris sama seperti Munich disaster, pesawat yang ditumpangi oleh para pemain Torino jatuh dan terbakar di bukit Superga ketika tim berjuluk 'Il grande Torino' Atau "Torino yang Hebat" itu pulang dari sebuah pertandingan persahabatan melawan Benfica di Lisbon untuk testimonial pemain Benfica, Jose Fereira.
Pesawat Italian Airlines Fiat G212CP tersebut terjebak badai di atas udara Superga yang sedang buruk dan berjarak pandang sangat terbatas. Pihak yang berwenang menyatakan kecelakaan itu disebabkan oleh kabut, badai, kerusakan navigasi pesawat dan buruknya komunikasi dengan bandara. Pesawat tersebut menabrak bukit Superga dan meledak, menewaskan semua penumpang termasuk 18 pemain Torino, club official, jurnalis, dan awak pesawat.

Korban :

Pemain
* Valerio Bacigalupo
* Aldo Ballarin
* Dino Ballarin
* Milo Bongiorni
* Eusebio Castigliano
* Rubens Fadini
* Guglielmo Gabetto
* Ruggero Grava
* Giuseppe Grezar
* Ezio Loik
* Virgilio Maroso
* Danilo Martelli
* Valentino Mazzola
* Romeo Menti
* Piero Operto
* Franco Ossola
* Mario Rigamonti
* Julius Schubert

Club official

* Arnaldo Agnisetta, manager
* Ippolito Civalleri, manager
* Egri Erbstein, trainer
* Leslie Lievesley, coach
* Ottavio Corina, masseur

Jurnalis

* Renato Casalbore, (founder of Tuttosport)
* Luigi Cavallero, (La Stampa)
* Renato Tosatti, (Gazzetta del Popolo)

Kru Pesawat

* Pierluigi Meroni, captain
* Antonio Pangrazi
* Celestino D'Inca
* Cesare Biancardi

Lainnya

* Andrea Bonaiuti, organiser

Dua pemain yang selamat dari kejadian itu adalah Sauro Tomà yang batal ikut karena cedera, dan Ladislao Kubala, pemain asli Portugal yang memilih tinggal sebentar di rumahnya karena anaknya sakit. Torino terpaksa meneruskan kompetisi dengan menurunkan pemain Primavera mereka. Torino gagal meraih gelar juara sampai tahun 1976. dan kecelakaan itu juga mengguncang timnas Italia dimana sepuluh pemain Torino ada di dalamnya termasuk kapten legendaris mereka, Valentino Mazzola. Kejadian itu pula yang, disadari atau tidak, telah menyusutkan kehebatan Torino dari klub raksasa menjadi klub medioker sampai saat ini, dan entah sampai kapan.


from wikipedia

KompasBola.com - 17/12/2008 | 07:00 WIB
Tragedi Superga: Tewasnya Bakat Italia


http://www.kompas.com/data/photo/2008/12/17/070253p.jpg
Pesawat jenis FIAT G-212 CP yang membawa para pemain Torino, hancur berantakan dan menewaskan penumpangnya.


SENJA itu, hujan turun di bagian utara Italia. Petir berkilat seiring derasnya hujan. Alam seperti tidak bersahabat lagi. Malang, sebuah pesawat dari Lisabon menuju Turin terlanjur mengudara.

Seperti belalang tersapu angin, pesawat nahas itu tak mampu mengendalikan diri. Krasss... Sayap pesawat menabrak Superga, bukit setinggi 670 meter di pinggiran Kota Turin. Pesawat pun meledak dan semua penumpang tewas mengenaskan.

Peristiwa yang terjadi pada pukul 17.04 waktu Italia, 4 Mei 1949 tersebut, merupakan lembar buram sejarah sepak bola Italia. Tak sekadar merenggut 31 jiwa. Lebih dari itu, kecelakaan itu juga memutus rantai sebuah generasi emas.

Bayangkan, 18 dari 31 penumpang yang tewas tersebut merupakan skuad inti Torino, tim tertangguh di Italia dan salah satu tim terkuat di Eropa. Pada saat itu, Torino adalah raja. Juventus atau Milan tak berkutik. Torino berhasil menobatkan diri sebagai juara sejati Italia dengan mengangkangi takhta Serie A dari 1943 sampai 1949 tanpa putus.

Yang lebih tragis, 70 persen kekuatan Timnas Italia juga ada di Torino. Klub berjulukan "El Toro" itu menyumbang 7 pemain untuk "Gli Azzurri". Salah satunya, Valentino Mazzola, kapten dari segala kapten, ayah dari legenda Inter Milan, Sandro Mazzola.

Valentino merupakan pemain paling karismatis di Italia. Pria yang telah mencetak 100 gol di Serie A sebelum umurnya menginjak 30 tahun ini dianggap seperti jenderal oleh teman-temannya. Nakhoda kapal "Gli Azzurri" ada di tangannya.

Hasilnya bisa ditebak. Pascakecelakaan tersebut, pamor Torino langsung padam. Takhta Serie A musim 1949-1950 pun dicuri kembali oleh Juventus. Yang lebih parah, Torino tak bisa lagi mempertahankan kebesarannya—saat itu Torino merupakan salah satu klub paling bergengsi di Italia. Akibat kehilangan kekuatan satu generasinya, Torino terduduk dan tak mampu bangkit lagi sampai saat ini.

Begitu juga nasib Timnas Italia. Setelah pada 2 Piala Dunia sebelumnya berhasil jadi juara, "Gli Azzurri" berubah jadi macan ompong. Hampir semua kekuatannya musnah seiring meledaknya pesawat di Bukit Superga. Hasilnya, pada Piala Dunia 1950, Italia hanya mampu meringis, tersingkir di babak penyisihan, dan Italia baru bisa bangkit lagi 33 tahun kemudian, saat menjuarai Piala Dunia 1982 di Italia.


Undangan maut

Petaka itu berawal dari undangan. Terbetik kabar, Kapten Benfica dan Timnas Portugal, Francisco Jose Ferreira, berniat gantung sepatu. Ferreira lalu mengundang sahabat dan pemain yang paling dihormatinya, Valentino Mazzola, untuk melakukan pertandingan persahabatan di Portugal.

“Aku ingin Torino menghadiri pertandingan terakhirku sebelum aku gantung sepatu. Kalian merupakan klub terkuat di Eropa. Aku yakin, dengan bertanding melawan kalian masyarakat akan berduyun-duyun datang ke stadion,” pinta Ferreira kepada Mazzola. Sang Kapten Torino pun menjawab, “Aku akan minta izin kepada Novo (Presiden Torino). Jika dia setuju maka aku akan datang ke pesta perpisahanmu,” jawab Mazzola.

Manajemen Torino tak keberatan. Asal, Mazzola dkk tetap harus tampil maksimal saat berlaga melawan Inter Milan yang digelar satu hari sebelumnya. Mazzola setuju. Pertandingan berakhir imbang 0-0, tetapi itu sudah cukup bagi Torino untuk memastikan diri keluar sebagai juara.

Pada Minggu, 3 Mei 1949, Mazzola dkk terbang ke Lisabon, Portugal, untuk berduel dengan Benfica. Ribuan orang menonton partai terakhir Ferreira tersebut. Pertandingan berjalan seru. Gol demi gol dilesakkan masing-masing tim. Benfica lebih beruntung. Jawara Liga Portugal itu menang tipis, 4-3.

Keesokan harinya, Tim Torino berangkat pulang ke Italia. Menumpang pesawat jurusan Barcelona-Turin yang transit di Benfica pada pukul 15.15, Mazzola dkk pulang dengan perasaan riang. Mereka benar-benar tidak tahu bahwa malaikat maut telah menunggu hanya dalam hitungan jam. Duh..

Satu jam pertama, pesawat terbang normal. Sayang, saat tiba di langit Italia, hujan turun dengan deras. Badai datang menghantam. Sekitar pukul 16.45, radio bandara Kota Turin mendapat berita dari pilot pesawat bahwa cuaca sangat buruk. Awan tebal menyelimuti Kota Turin. Di daerah Superga, mata pilot hanya bisa menjangkau pada radius 40 meter.

Pilot pesawat dan menara pemantau di bandara Turin saling memberi kabar. Malang tak dapat dihindari. Pada pukul 17.04, sinyal radio dari pesawat tiba-tiba terputus. Pihak bandara pun tak bisa menerka apa yang telah terjadi. Selang beberapa menit kemudian, pada pukul 17.12, kepolisian kawasan Superga memberi kabar bahwa ada kecelakaan tragis. Sebuah pesawat membentur Bukit Superga. Semua penumpangnya tewas mengenaskan.

Italia terperangah. Perih menusuk di semua dada orang Italia. Para legenda sepak bola mereka tewas mengenaskan. Ratusan polisi dan tenaga sukarelawan menyerbu ke lokasi. Mereka mencoba menolong seolah tak percaya bahwa para korban telah tewas. Konglomerat Giovanni Agnelli dan pelatih legendaris Vittorio Pozzo sampai ikut turun ke lapangan untuk membantu sekuat tenaga.

Semua sia-sia. Rantai emas sepak bola Turin dan Italia telah putus. Italia pun menangis. (Yoyok/Soccer)


Info Tragedi Superga
Jenis: Kecelakaan pesawat
Lokasi: Superga, Turin (Italia)
Tanggal: 4 Mei 1949
Korban: 31 orang tewas

Info pesawat
Jenis: FIAT G-212 CP
Perusahaan: Avio Linee Italiane
Daya tampung: 32 orang
Rute: Barcelona–Turin


Kronologi
Lisabon – Berangkat pukul 15.45. (4 Mei 1949)

Bukit Superga – Pulul 17.04. Hujan deras. Penglihatan pilot pesawat terganggu. Pilot coba melakukan pendaratan darurat. Sayang, sayap kiri pesawat menabrak bukit. Pesawat pun meledak.


Para Korban
Turin – Ribuan masyarakat Italia mengadakan upacara penghormatan untuk para korban. Berikut adalah para korban.

Pemain Torino
V Bacigalupo, G Gabetto, V Mazzola, To Ballarin, R Grava, R Menti, D Ballarin, C Grezar, P Operto, Bongiorni, Loik, F Ossola, And Castigliano, V Maroso, M Rigamonti, R Fadini, D Martelli, dan J Schubert.

Manajemen Torino
Civelleri, To Agnisetta, And Egrierbstein, L Lievesley, dan Or Cortina.

Wartawan
R Casalbore, L Cavallero, dan R Tosatti.

Kru pesawat
C Bianciardi, To Pangrazzi, C D' Inca, To Bonaiuti, Colonn, dan Meroni.

^^
maaf.....
pengetahuan saya tentang tragedi/bencana yg berhubungan dengan tewasny suporter atau pmain arsenal sendiri bener-bener nihil.
mungkin krn pengetahuan gw tentang arsenal msh kurang atau memang ngga ada/ngga pernah terjadi hal seperti di arsenal.

cuma yg saya ingat (tepatny pernah baca)
pd skitaran thn 98 (klo g salah) pernah terjadi suatu insiden (ngga tau ini msk kategori tragedi/bencana apa bukan), saat arsenal tandang ke markas coventry city, seorang security staff dr coventry tertabrak oleh bus pmain arsenal.
sehingga menyebabkan luka parah dikepala security itu.
dia dilarikan kerumah sakit, tapi setelah bertahan selama lima hari...akhirny dia meninggal.

cuma itu saja yg gw tau tentang insiden yg berubungan sm arsenal.
cuma berdasarkan ingatan aj pas baca dimana lupa gw.
males nyari2 di wiki atw segala macem.
sorry...hehe.....^^v

.............................

rondwisan
01-08-2009, 10:37 AM
Oom JOKAWBAIZ wrote:

1. Tragedi Hillsborough

Tragedi Hillsborough adalah tragedi yang mengakibatkan kematian para penontong sepak bola karena saling berjejalan pada tanggal 15 April 1989 di Hillsborough, yang menjadi kandang dari Sheffield Wednesday di kota Sheffield, Inggris. Peristiwa tersebut mengakibatkan 96 orang meninggal dunia yang semuanya adalah pendukung Liverpool F.C. Jumlah korban meninggal tersebut tercatat sebagai jumlah tertinggi dalam kecelakaan di stadium dalam sejarah Britania Raya dan tetap menjadi rekor tragedi terbesar yang berhubungan dengan stadion sepak bola di Britania Raya.

Pada saat itu adalah pertandingan semi final Piala FA yang mempertemukan Liverpool dan Nottingham Forest.


Korban
95 orang meninggal pada Kejadian tersebut.

seorang lagi meninggal setelah mendapatkan perawatan sehingga menambah jumlah korban menjadi 96 orang. 89 diantaranya laki - laki serta 7 orang perempuan. Berdasarkan umur, kebanyakan diantaranya berusia dibawah 30 tahun serta 13 orang diantaranya dibawah usia 20 tahun. Korban termuda adalah seorang anak laki - laki berusia 10 tahun.

730 orang terluka di dalam stadium serta 36 terluka di luar stadium. Ratusan orang mangalami trauma karena peristiwa tersebut.

Berikut ini adalah daftar korban yang meninggal dunia dalam Tragedi Hillsborough:

John Alfred Anderson (62)
Colin Mark Ashcroft (19)
James Gary Aspinall (18 )
Kester Roger Marcus Ball (16)
Gerard Bernard Patrick Baron (67)
Simon Bell (17)
Barry Sidney Bennett (26)
David John Benson (22)
David William Birtle (22)
Tony Bland (22)
Paul David Brady (21)
Andrew Mark Brookes (26)
Carl Brown (18 )
David Steven Brown (25)
Henry Thomas Burke (47)
Peter Andrew Burkett (24)
Paul William Carlile (19)
Raymond Thomas Chapman (50)
Gary Christopher Church (19)
Joseph Clark (29)
Paul Clark (18 )
Gary Collins (22)
Stephen Paul Copoc (20)
Tracey Elizabeth Cox (23)
James Philip Delaney (19)
Christopher Barry Devonside (18 )
Christopher Edwards (29)
Vincent Michael Fitzsimmons (34)
Thomas Steven Fox (21)
Jon-Paul Gilhooley (10)
Barry Glover (27)
Ian Thomas Glover (20)
Derrick George Godwin (24)
Roy Harry Hamilton (34)
Philip Hammond (14)
Eric Hankin (33)
Gary Harrison (27)
Stephen Francis Harrison (31)
Peter Andrew Harrison (15)
David Hawley (39)
James Robert Hennessy (29)
Paul Anthony Hewitson (26)
Carl Darren Hewitt (17)
Nicholas Michael Hewitt (16)
Sarah Louise Hicks (19)
Victoria Jane Hicks (15)
Gordon Rodney Horn (20)
Arthur Horrocks (41)
Thomas Howard (39)
Thomas Anthony Howard (14)
Eric George Hughes (42)
Alan Johnston (29)
Christine Anne Jones (27)
Gary Philip Jones (18 )
Richard Jones (25)
Nicholas Peter Joynes (27)
Anthony Peter Kelly (29)
Michael David Kelly (38 )
Carl David Lewis (18 )
David William Mather (19)
Brian Christopher Mathews (38 )
Francis Joseph McAllister (27)
John McBrien (18 )
Marion Hazel McCabe (21)
Joseph Daniel McCarthy (21)
Peter McDonnell (21)
Alan McGlone (28 )
Keith McGrath (17)
Paul Brian Murray (14)
Lee Nicol (14)
Stephen Francis O'Neill (17)
Jonathon Owens (18 )
William Roy Pemberton (23)
Carl William Rimmer (21)
David George Rimmer (38 )
Graham John Roberts (24)
Steven Joseph Robinson (17)
Henry Charles Rogers (17)
Colin Andrew Hugh William Sefton (23)
Inger Shah (38 )
Paula Ann Smith (26)
Adam Edward Spearritt (14)
Philip John Steele (15)
David Leonard Thomas (23)
Patrik John Thompson (35)
Peter Reuben Thompson (30)
Stuart Paul William Thompson (17)
Peter Francis Tootle (21)
Christopher James Traynor (26)
Martin Kevin Traynor (16)
Kevin Tyrrell (15)
Colin Wafer (19)
Ian David Whelan (19)
Martin Kenneth Wild (29)
Kevin Daniel Williams (15)
Graham John Wright (17)

YNWA
JUSTICE FOR THE 96
__________________________________________________ _______

dari situs resmi klub

Hillsborough Tragedy
source : http://www.liverpoolfc.tv/lfc_story/1989.htm

On April 15th 1989, over 25,000 Liverpool supporters travelled down to Hillsborough to watch the FA Cup semi-final match with Nottingham Forest. 96 of them never returned. The sun had been shining and what should have been a fantastic day for both the club and the fans turned into the scene of the most horrific football disaster the English game has ever seen.

96 Liverpool supporters were crushed to death in the Leppings Lane end just after kick-off. Football in England and Liverpool Football Club, in particular, would never be the same again. But - amidst the tears, the scarves, the flowers and the funerals, an unbelievable bond between the club and the supporters emerged. Players, staff and fans from all over the world supported each other through the most difficult time in the club's history.

The events at Hillsborough on April 15th Shook The Kop more than any other day but the aftermath - with supporters, players and LFC comforting one another - highlighted why we all support Liverpool Football Club.

96 Reds live on in our memories.
Justice for the 96
__________________________________________________ __

rondwisan
01-08-2009, 10:39 AM
kronologis kejadiaan
Hillsborough disaster

The Hillsborough disaster occurred on April 15, 1989, at Hillsborough, a football stadium in Sheffield, England, resulting in the loss of 96 lives.
Liverpool F.C. were involved in their 17th FA Cup Semi-Final, to be played against Nottingham Forest F.C. at Hillsborough, the home of Sheffield Wednesday F.C..

Football had been plagued by hooliganism for years in many countries but particularly in the United Kingdom. Football hooliganism in the UK often involves pitch invasions and the throwing of a variety of missiles - in response most stadiums placed high chainlink fences between the seats and terraces and the pitch (terraces were cheaper standing areas without seats). However, it was not hooliganism that day, but the fear of it, that led to the death of ninety-six people.

The stadium was divided into two parts in order to keep the opposing fans apart: the Liverpool supporters being assigned to the Leppings Lane End. Kick off was scheduled for 3.00pm and many of the Liverpool supporters were late arriving. By 2.45pm there was a considerable buildup of fans outside the turnstiles at the Leppings Lane End, all eager to enter the stadium before the match started. With a crowd of 5000 fans (est) trying to get through the turnstiles the police decided to open a second set of gates which did not have turnstiles. The resulting inpouring of hundreds (possibly thousands) of fans at the rear of the terraces caused a crush at the front where people were pressed against the fencing. For some time the problem was not noticed and it was not until 3:06pm that the referee stopped the game. By this time a small door in the fencing had been opened and by this route many escaped the crush - others climbed over the fencing.

The pitch quickly started to fill with people sweating and gasping for breath and with the bodies of the dead. The police and ambulance services were overwhelmed by the scale of the disaster and fans helped as best they could, many attempting CPR and some tearing down advertising hoardings to act as makeshift stretchers. The crush ultimately took the lives of 96 people.

Graphic footage of the disaster was available because the match was being broadcast and this along with the number of fatalities made an extreme impact on the general population.

A permanent tribute to those who lost their lives can be found alongside the Shankly Gates at Anfield. A further tribute was set up in 1999 at Hillsborough.

The Taylor Inquiry

Following the disaster, Lord Justice Taylor was appointed to conduct an inquiry into the tragedy. Taylor's inquiry sat for thirty one days and published two reports, one interim report that laid out the events of the day and immediate conclusions and one final report that made general recommendations on football ground safety. As a result of the inquiry, fences in front of fans were removed and stadia were converted to become all-seated.

There was considerable debate over some aspects of the disaster; in particular, attention was focused on the decision to open the secondary gates. It was suggested that it would have been better to delay the start of the game as had often been done at other venues and matches. The police claimed that they were concerned that the crush outside the stadium was getting out of control and accusations were made that some Liverpool fans did not have tickets and were trying to force the turnstiles. Other accusations of misbehaviour were made in relation to the crowd, however, no substantial evidence was presented to this effect.

Don't buy the s*n

The Sun newspaper

On the Tuesday following the disaster, Kelvin MacKenzie, then editor of The Sun, a British tabloid newspaper owned by Rupert Murdoch, used the front page headline 'THE TRUTH', with three sub-headlines: 'Some fans picked pockets of victims'; 'Some fans urinated on the brave cops'; 'Some fans beat up PC giving kiss of life'.

The story accompanying these headlines claimed that 'drunken Liverpool fans viciously attacked rescue workers as they tried to revive victims' and 'police officers, firemen and ambulance crew were punched, kicked and urinated upon'. A quote, attributed to an unnamed policeman, claimed that a dead girl had been abused and that Liverpool fans 'were openly urinating on us and the bodies of the dead'.

In their history of The Sun, Peter Chippendale and Chris Horrie wrote:
'As MacKenzie's layout was seen by more and more people, a collective shudder ran through the office [but] MacKenzie's dominance was so total there was nobody left in the organisation who could rein him in except Murdoch. [Everyone] seemed paralysed, "looking like rabbits in the headlights", as one hack described them. The error staring them in the face was too glaring. It obviously wasn't a silly mistake; nor was it a simple oversight. Nobody really had any comment on it—they just took one look and went away shaking their heads in wonder at the enormity of it. It was a "classic smear".'

Lord Justice Taylor's official inquiry into the disaster disparaged The Sun's story and was unequivocal as to the disaster's cause:
'The real cause of the Hillsborough disaster [was] overcrowding, the main reason for the disaster was the failure of police control.'

Following The Sun's report, the newspaper was boycotted by most newsagents in Liverpool, with many refusing to stock the tabloid and large numbers of readers cancelling orders and even refusing to buy from shops which did stock the newspaper.

MacKenzie explained his reporting in 1993. Talking to a House of Commons National Heritage Select Committee he said "I regret Hillsborough. It was a fundamental mistake. The mistake was I believed what an MP said. It was a Tory MP. If he had not said it and the chief superintendent had not agreed with it, we would not have gone with it." This explanation was not accepted by families of Hillsborough victims. Even fifteen years after the Hillsborough disaster, the circulation of The Sun in Liverpool is still reckoned to be only 12,000 copies a day where previously it was around 200,000.

The Sun itself issued an apology "without reservation" in a full page opinion piece on 7 July 2004, saying it had that "committed the most terrible mistake in its history." The Sun was responding to the intense criticism of Wayne Rooney, a Liverpool-born football star who then still played in the city (for Everton), who had sold his life story to the newspaper. Rooney's actions had incensed Liverpool dwellers still angry at The Sun. The Sun's apology was somewhat bullish, saying that the "campaign of hate" against Rooney was organised in part by the Liverpool Daily Post & Echo, owned by Trinity Mirror, who also own the Daily Mirror, arch-rivals of The Sun. Thus the apology actually served to anger some Liverpudlians further. The Liverpool Echo itself did not accept the apology, calling it "shabby" and "an attempt, once again, to exploit the Hillsborough dead."

Lebih lengkapnya tentang Tragedi Hillsborough, bisa dibaca-baca di
- http://forum.big-reds.org/viewtopic.php?f=46&t=356&sid=290dbb7b94cfb8c46364dc6a079b4dce
dan
- http://forum.big-reds.org/viewtopic.php?f=46&t=2090&sid=290dbb7b94cfb8c46364dc6a079b4dce

---------------------------------------------------------

Sedikit pembahasan yang gw tulis mengenai Tragedi Hillsborough dan Heysel untuk menanggapi komentar dari bro forest fan pada waktu itu

kalo boleh pengen cerita dikit mengenai pengalaman gw kemaren di forum BR:ngebul FYI...gw suka posting di forum BR, Indomanutd, CISC & Arsenal krn walopun gw fansnya Forest...gw juga fans berat premiership. cuma baru2 ini gw dapet pengalaman yg kurang menyenangkan di forum BR. ceritanya gini...jadi pada suatu thread ada member yg mengutip berita dari tabloid The Sun. kemudian ada beberapa member dan moderator yg mencela berita tsb krn mereka gak sudi dapet berita dari The Sun...beberapa malah bilang mereka anti dgn semua yg berbau The Sun. FYI juga...sebagian supporter Liverpool emang benci bgt ma The Sun. awal mulanya dari tragedi Hillsborough yg menewaskan 96 supporter the reds di taun 89 pas semifinal FA cup lawan Nottingham Forest. The Sun pada saat itu menyebarkan berita bohong bhw sebagian supporter Pool menjarah dan mencopet para korban, memukuli serta mengencingi polisi2 yg membantu korban. hal ini menyebabkan sebagian liverpudlian punya dendam kesumat sama The Sun. walopun tabloid ini telah meminta maaf 1 halaman penuh di taun 2004 (15 thn kemudian)...tetep aja masih banyak fans pool yg sakit hati. nah...balik ke forum BR...waktu itu gw kasih comment yg isinya kira2 begini "walopun gw ngerti kalo ada fans pool yg masih sakit hati ma the sun...maybe it's time to move on...lagian memberi maaf itu dapet pahala loh". reaksi yg gw dapet beragam. ada yg bilang mereka ga bisa maafin The Sun...ada yg bilang ini urusan fans pool jadi gw yg org luar ga akan ngerti...ada juga yg nyuruh gw minta maaf. tapi satu yg bikin gw kecewa...salah satu moderator nyuruh gw pergi dari forum. ya udah krn salah satu moderatornya ngomong gitu gw langsung pamit. moderator yg lain (kalo ga salah VPnya BR mas Iman) langsung pm gw bilang minta maaf kalo gw tersinggung krn topik The Sun emang sensitif dan ngarep gw tetep jadi member. cuma mungkin gw udah kecewa duluan makanya gw bilang makasih ma mas Iman tapi kayanya gw ga bisa tetep gabung. pdhl gw ga pernah nge-flame ato nyampah di forum manapun loh. dlm hati gw cuma mikir...kalo fans pool ngarep mereka dimaafkan oleh fans juve atas tragedi heysel yg menewaskan 39 fans juve, kenapa mereka ga bisa maafin The Sun yg ga terlibat langsung atas tragedi hillsborough? aneh aja sih menurut gw:gila tapi gpp sih...mungkin gw emang orgnya terlalu pemaaf:ompong itung2 ini juga jadi pengalaman berharga buat gw...

Gw juga mau ikut komen atas komentar yg gw quote diatas biar orang mengerti kenapa kita ga pernah memaafkan the sun....
kita gak akan pernah memaafkan the sun karena mereka tidak pernah meminta maaf secara tulus atas peristiwa itu. Permintaan maaf mereka di tahun 2004 itu kesannya oportunis dan malah melecehkan warga kota liverpool dan hanya dibuat setelah banyak aksi protes dari penduduk liverpool atas wawancara eksklusif wayne rooney di the Sun.

lihat di thread Hillsborough di forum BR.

Soal tragedi heysel, learn the facts before you write it.
39 supporter juve terbunuh karena dinding stadion rubuh. Yes, mereka saat itu sedang di serang oleh supporter Liverpool, tapi ini juga karena pembalasan atas timpukan batu supporter Juve ke arah mereka. Faktanya, itu stadion tidak pantas menggelar laga final champions (sehabis laga itu langsung ditutup dan direnovasi) serta authority pun kurang tanggap karena ternyata banyak sekali supporter dari kedua kubu yang tidak dipisahkan tempat duduknya dan bercampur di satu tribun.
Dan lagi setelah kejadian pihak Liverpool langsung meminta maaf bahkan mereka membiarkan pertandingan utk dimenangkan Juve ( penalti utk Juve seperti direkayasa karena melakukan pelanggaran jelas2 1-2 meter diluar kotak penalti dan tidak mungkin utk tdk dilihat jelas oleh wasit-gw punya rekaman pertandinganya )

Kedua tragedi tersebut adalah sangat menyedihkan buat sepakbola. Untuk tragedi Heysel, LFC sudah dihukum oleh UEFA dan menjadi klub inggris paling lama yang kena hukuman larangan bertanding di eropa. We did our time. We apologized wholeheartedly.

Untuk tragedi Hillsborough, yang paling menyakitkan adalah ada pihak yang mencoba berbohong dan menyebarkan berita sampah demi menaikkan keuntungan pribadi mereka semata tanpa menghiraukan bahwa ada 96 orang meninggal. The Sun gak terlibat secara langsung dalam tragedi ini? Try telling that to the family's victims. Dengan kebohongan mereka, itu sama saja mereka mencoba menumpahkan kesalahan kepada orang2 yang tidak berdosa, dan ini sama kejinya dengan pembunuhan terencana IMO.

Dan kenapa "permintaan maaf" nya harus menunggu 14 tahun kemudian? dan kenapa hanya dibuat setelah ada reaksi keras thd wawancara eksklusif wayne rooney? Aneh bukan?

Jadi saya pikir wajar wajar aja kalo banyak liverpudlian yang terluka dan belum mau memaafkan The Sun. Seperti kata kenny Dalglish, satu satunya hal yang bisa membuat The Sun dimaafkan publik liverpool adalah jika mereka membuat judul headline besar besaran di cover mereka dgn tulisan "WE LIED" untuk mengcounter judul "THE TRUTH" buatan mereka dulu.

Justice for the 96.

rondwisan
01-08-2009, 10:40 AM
2. Tragedi Heysel
http://www.liverpoolfc.tv/lfc_story/heysel/

Heysel May 29th, 1985 : A Day Never To Be Forgotten

At 3.06pm on April 15th each year, thousands of Liverpool fans all over the world take a moment or two out from their everyday lives to stop and remember the 96 supporters who died at the Hillsborough stadium disaster in 1989.

It's the saddest day of the year for many Liverpool supporters. However, it's not the only day when many fans stop for a moment to think of a large group of football supporters who went to a match only never to return.
If April 15th is the saddest day in the club's history, May 29th is surely the lowest. On May 29 1985, 39 football fans died when a wall collapsed at the Heysel stadium in Belgium. What should have been one of the greatest nights in the club's history turned into a nightmare.

Instead of leaving Brussels having seen our team lift a fifth European Cup, Liverpool supporters travelled back to England having witnessed the deaths of 38 Italians and one Belgian.

Liverpool had objected to the choice of ground to stage the final well before the friendly banter outside the stadium began to turn nasty inside. Aside from the fact that the stadium appeared to be crumbling, Liverpool's main concern was that there was to be a neutral section of the ground set aside for football fans from Belgium. The club argued that only Liverpool and Juventus should be allocated tickets. Setting aside a neutral area would only lead to both sets of fans being able to buy tickets off Belgium touts thus creating a dangerous mixed area. As history has since proved, this neutral area was soon filled with Italian supporters.

As tempers became frayed inside the ground about an hour before kick off, both sets of fans baited each other through a segregating fence made from chicken wire. After a sustained period of missiles being thrown by both sets of supporters, some Liverpool fans charged at their Italian counterparts and, as chaos took over, Juventus fans fled only for a wall blocking their escape to collapse on top of them. Thirty-nine football supporters died where they fell.

Later that night, Juventus won the European Cup 1-nil. It's a match nobody wants to remember.

Kenny Dalglish, Liverpool's greatest ever player, will never forget what happened in Belgium though.

"The fact that fatalities might result wouldn't have occurred to the Liverpool fans when they ran across."

Dalglish admits that it wasn't until the following morning that the Liverpool players finally realised exactly what had happened inside the stadium.

"We saw the Italian fans crying, and they were banging on the side of our bus when we left the hotel," he recalls. "When we left Brussels, the Italians were angry, understandably so; 39 of their friends had died. I remember well one Italian man, who had his face right up against the window where I was sitting. He was crying and screaming. You feel for anybody who loses someone in those circumstances. You go along to watch a game. You don't go along expecting that sort of ending, do you? Football's not that important. No game of football is worth that. Everything else pales into insignificance."

Almost 20 years after that terrible day, Liverpool and Juventus were drawn together again for the first time in the quarterfinals of the Champions League. It was if fate had brought the two teams together to join forces and honour those who had lost their lives at Heysel.

"There is a friendship between the two clubs and supporters," Liverpool Chief Executive Rick Parry revealed after the draw had been announced. "As soon as the draw paired us together for the first time in 20 years, memories of the Heysel Stadium disaster were naturally in people's minds, both in Turin and here on Merseyside. The two clubs built bridges and forged powerful links after Heysel. The bond between us remains strong, but we still want all Juventus fans to know that we are very sorry about the fact that 39 people lost their lives. We moved forward in a spirit of friendship after Heysel and the clubs continue to work together in a spirit of mutual respect."

May 29 is a day of remembrance for both Juventus and Liverpool supporters. Think for a minute about those who lost their lives at Heysel and pray it never happens again.

RIP 39

_______________________________________________

Menjelang pertemuan Liverpool vs Juve untuk pertama kalinya pasca Tragedi Heysel 29 Mei 1985 di Anfield pada perempat final UCL musim 2004-2005 yang waktunya hampir berdekatan dengan 20 tahun peringatan Tragedi Heysel.

Bersatu untuk Heysel

Ketika pertama kali Liverpool diketahui bertemu dengan Juventus di perempatfinal Liga Champion, ingatan publik langsung mengarah pada Tragedi Heysel, 29 Mei 1985.

Ketika itu, final Piala Champion 1984/85, Liverpool berduel melawan Juventus di Stadion Heysel, Belgia. Sebelum laga, kerusuhan terjadi. Akibatnya sebanyak 39 orang tewas.

Setelah itu klub-klub Inggris diskors UEFA selama lima tahun. Liverpool pun tidak pernah lagi berjumpa dengan Juventus di pertandingan resmi maupun persahabatan.

Itu sebabnya kedua klub ini sepakat untuk memperingati Tragedi Heysel secara khusus saat mereka bertemu di Anfield, Selasa (5/4). Inisiatif datang dari Liverpool, pihak yang merasa lebih bersalah dalam peristiwa 20 tahun lalu itu.

“Hubungan kedua tim sangat baik pascatragedi itu. Ini kesempatan bagi suporter kami untuk menunjukkan respek mereka. Kami akan melakukan sesuatu untuk tifosi Juventus di Anfield. Saya belum bisa bilang apa itu, tapi pasti akan amat berkesan,” ujar Chief Executive The Reds, Rick Parry.

Pelatih Juventus, Fabio Capello, sependapat dengan niat baik Liverpool itu. “Kami akan memainkan partai ini mengingat apa yang terjadi 20 tahun lalu dan memastikan kali ini spirit sepakbola tidak akan dilupakan,” katanya di The Guardian.

Kedua belah pihak tidak merasa diperlukannya antisipasi dalam hal penonton. “Tidak perlu mengurangi penonton. Sebaliknya Juventus ingin alokasi 2.400 tiket di Anfield. Kami akan mengusahakan agar bisa mendatangkan 3.600 Juventini. Ini partai persahabatan demi Heysel,” ucap Parry.

Memori Legenda
Momen pertandingan Liverpool-Juventus ini juga menyatukan kembali ingatan para saksi sejarahnya. Bintang-bintang masa lalu The Reds serta I Bianconeri sama-sama berharap agar Tragedi Heysel diingat bukan karena memori tragisnya.

“Luka ini sangat dalam, tidak bisa disembuhkan. Kita harus menjalani partai ini dengan cara yang sebenarnya. Liverpool versus Juventus adalah sebuah perayaan, sesuatu yang seharusnya juga terjadi 29 Mei 1985,” ujar legenda Juventus pencetak gol tunggal partai 20 tahun lalu, Michel Platini.

“Sekarang sudah waktunya untuk membuka lembaran baru, membuat ‘hantu-hantu’ Heysel beristirahat dengan tenang,” sambung eks rekan satu tim Platini, Marco Tardelli.

Dari Liverpool, yang bicara adalah Kenny Dalglish, yang dulu bertarung melawan Platini dan Tardelli. “Banyak jembatan positif sudah dibangun setelah tragedi itu. Jangan lagi hubungan baik ini dirusak,” katanya di BBC Football.

“Baik Liverpool maupun Juventus sudah meminta maaf dan itu sudah diberikan. Saatnya bersatu untuk membangun kembali tembok Heysel yang runtuh itu,” lanjutnya.

Timeline Tribute for Heysel

Tragedi Heysel begitu membekas dalam perjalanan sejarah sepakbola dunia. Wajar ketika Liverpool dan Juventus memutuskan untuk memperingati bencana itu secara spesial saat kedua tim bertemu untuk pertama kalinya pasca-final Piala Champion 1985 di perempatfinal Liga Champion 2005.

Apa yang direncanakan Liverpool serta Juventus sebetulnya bukan tribute pertama yang dilakukan untuk mengenang Tragedi Heysel. Berikut ini adalah beberapa cara yang dilakukan masyarakat sepakbola dunia untuk mengingatkan betapa dalam luka yang ditinggalkan Tragedi Heysel.

29 Mei 1985: Pada malam hari beberapa jam setelah terjadinya Tragedi Heysel, karangan-karangan bunga ditempatkan di depan pintu restoran-restoran Italia di Merseyside.

1986: Sebuah plakat kecil diletakkan tepat di tempat runtuhnya bagian Stadion Heysel untuk mengenang tragedi tersebut.

1988: Asosiasi Keluarga Korban Heysel didirikan dengan presidennya adalah Ottelo Lorentini. Anak Ottelo, Roberto, adalah salah satu korban. Roberto, yang seorang dokter, tewas tertimpa tembok yang roboh ketika sedang memberikan pernapasan buatan untuk seorang anak. Asosiasi ini tidak aktif lagi tahun 1992 setelah penyelidikan kasus Heysel ditutup.

1994: Stadion Heysel diruntuhkan dan digantikan Stadion King Baudouin. Tapi, plakat peringatan Tragedi Heysel tetap dipertahankan di tempatnya semula.

30 Mei 2000: Para korban Tragedi Heysel diperingati secara resmi untuk pertama kalinya di kota Liverpool. Hari itu, lonceng balai kota dibunyikan 39 kali untuk mengenang 39 orang korban.

14 Juni 2000: UEFA menolak permintaan tim nasional Italia, yang melawat ke Belgia untuk pertama kalinya pasca-Tragedi Heysel, untuk meletakkan karangan bunga di tengah lapangan dan mengheningkan cipta sebelum uji coba lawan Belgia. Tapi, wasit Aranda Encinar tetap menunda kick-off selama lima menit sehingga Paolo Maldini bisa melakukan prosesi tersebut.

23 April 2004: Di Italia diluncurkan buku berjudul Le Verita sull’Heysel (Kebenaran tentang Heysel) karangan Francesco Camerani. Nara sumbernya antara lain: Zibi Boniek (eks pemain Juventus), Roberto Beccantini (jurnalis dan saksi mata), dan Otello-Andrea Lorentini (orangtua salah satu korban).

5 April 2005: Pada partai pertama perempatfinal pertama Liga Champion di Anfield antara Liverpool dan Juventus, kedua tim berjanji akan melakukan sesuatu yang spesial untuk mengenang 20 tahun Tragedi Heysel.

29 Mei 2005: Sebuah monumen khusus berharga 200 ribu euro akan diresmikan untuk mengenang 20 tahun Tragedi Heysel. Monumen itu berupa patung sekaligus jam matahari sebesar 60 meter persegi yang menggambarkan 39 korban yang tewas.

rondwisan
01-08-2009, 10:42 AM
In Memoria e Amicizia, in Memory and Friendship

Rocco Acerra
Bruno Balli
Alfons Bos
Giancarlo Bruschera
Andrea Casula
Giovanni Casula
Nino Cerullo
Willy Chielens
Giuseppina Conti
Dirk Daenecky
Dionisio Fabbro
Jacques François
Eugenio Gagliano
Francesco Galli
Giancarlo Gonnelli
Alberto Guarini
Giovacchino Landini
Roberto Lorentini
Barbara Lusci
Franco Martelli
Loris Messore
Gianni Mastrolaco
Sergio Bastino Mazzino
Luciano Rocco Papaluca
Luigi Pidone
Bento Pistolato
Patrick Radcliffe
Domenico Ragazzi
Antonio Ragnanese
Claude Robert
Mario Ronchi
Domenico Russo
Tarcisio Salvi
Gianfranco Sarto
Giuseppe Spalaore
Mario Spanu
Tarcisio Venturin
Jean Michel Walla
Claudio Zavaroni

RIP 39
YNWA

-------------------------------------------------

The city that eclipsed the Sun

Fifteen years after the Hillsborough disaster, Liverpool still can't forgive the newspaper that piled insult on injury. So can it forgive Wayne Rooney for taking the Murdoch shilling? David Smith reports

Sunday July 11, 2004
The Observer

It's 10pm in the Western Approaches pub and Stevie Gay, who often drinks here with Wayne Rooney's dad, is holding court. Suddenly he puts his pint of Carling on the table and turns serious, the smile fading from his lips. 'I was at Hillsborough. I saw them dragging people up by their scarves, trying to save them,' he says, mimicking the action with his hands. 'They were bringing them up the barriers and getting them on the pitch. I heard a scream: "This lad is dead." It was a horrible sight. All the dead bodies.'
Gay, 49, also remembers the newspaper headline that cuts as deep as ever in Liverpool and, more than 15 years after English football's worst disaster, still asks questions about the city's sense of identity in relation to the rest of Britain. 'The Sun said they were robbing the dead. It was all lies. If anyone was looking through people's pockets, it was for their IDs. The Sun is scum and nobody in this pub buys it.'
The Western Approaches - in drug- and crime-plagued Croxteth in inner-city Liverpool - was once Wayne Rooney's local and is still frequented by his father, siblings and cousins. On the cream-painted walls is a framed team photo of the Croxteth amateur boxing squad, naming its secretary as Richie Rooney. Tonight another young Rooney, who in blue T-shirt and tracksuit bottoms is the image of his famous cousin, is standing near the jukebox, watching darts. When an Observer reporter enters the room the laughter dies. There is a hostile silence. 'Gettout!' shouts someone. Journalists are not welcome here.
And some are less welcome than others. Those from the Sun must still answer for the sins of their predecessors. In April 1989, four days after 96 Liverpool fans were crushed to death on the terraces at Hillsborough stadium in Sheffield, Britain's bestselling daily ran the front page headline 'The Truth'. Below it were three subheadings: 'Some fans picked pockets of victims'; 'Some fans urinated on the brave cops'; 'Some fans beat up PCs giving the kiss of life'. All were lies. The Taylor Inquiry after the disaster found that fans had responded quicker than the emergency services, performing several acts of heroism.
Copies of the Sun were burnt in the city's streets and many newsagents refused to sell it. It has still not fully recovered: while the paper sells 3.3 million copies nationwide, it shifts only 12,000 in Liverpool. One rival publication calculated that, given an average cover price of 20p over 15 years, editor Kelvin MacKenzie's catastrophic misjudgment has cost owner Rupert Murdoch around £55 million in lost circulation.
Enter Wayne Rooney, superstar of Everton and hero of England's recent Euro 2004 campaign. The 18-year-old's decision to sell his life story - 'world exclusive' revelations that he and his fiancée love each other, watch EastEnders and have a dog called Fiz - for £250,000 to the Sun and its sister paper, the News of the World , was guaranteed to test his folk hero status like nothing else. As in 1992, when Liverpool manager Graeme Souness took the paper's shilling, radio phone-ins were jammed. Fans wrote letters or emails saying they were 'sickened'. Red-blue rivalries on the field were irrelevant: Everton and Liverpool fans are united in hatred of the Sun.

Leading the condemnation of the deal is Jimmy McGovern, writer of the TV drama documentary Hillsborough. He said last night: 'Footballers today are on massive wages because 96 fans died at Hillsborough and Lord Justice Taylor had to drag the game into the modern era. Footballers should never forget it. Local lads especially. Locally born footballers have an enormous responsibilty to the Hillsborough dead. That is hard, I know. They are only young men. But, tough, they have it. So for Wayne Rooney to sell his story to the Sun is a disgrace.'
For men like Stevie Gay, who lost friends at Hillsborough and used to take young Wayne to watch boxing, there is a potential conflict of loyalties. But he had no doubt where the responsibility lies. 'He's been badly advised, and his agent has made a few quid. Wayne has proved himself to the world, and no one should blame him.'
Others in The Western Approaches shared a fierce allegiance to Rooney that is matched only by their revulsion towards the Sun. John McCormick, 64, a retired labourer, said: 'The Sun is a disgrace. I won't have it in the house. It doesn't matter how often they apologise because it's too late. I will never forgive the Sun. I can imagine Wayne Rooney's family are upset. If I was his dad I'd have given him a smack. But he was only three years old at the time of Hillsborough. He's been misdirected by his agent and should get rid of him.'
Rooney's agent is Paul Stretford, the millionaire founder and chief executive of the Proactive Sports Group. Stretford is understood to have been aware of the anti-Sun sentiments on Merseyside but advised Rooney to sign the deal anyway, without Everton's knowledge. What Stretford hadn't bargained for was last Wednesday's Sun , which in response to local complaints issued a full-page apology for 'the most terrible mistake in its history', and claimed on its front page that Rooney had been 'hurt by a hate campaign' against him.
Stretford was incensed that it implied Rooney backed the apology, and rushed out a statement: 'Proactive, Wayne and his fiancée Colleen believe that the Sun 's repeated apologies for its terrible mistakes in its reporting of the Hillsborough disaster are entirely a matter for that newspaper. We all wish to make it clear that the sentiments expressed in the Sun were the views of that newspaper alone and we were not asked to, nor did we, endorse them.'
The Sun's mea culpa appeared to have backfired by turning a local story into a national one. The apparent self-flagellation was condemned as a cynical ploy because it also managed to accuse the Liverpool Post and Echo newspapers, owned by the rival Trinity Mirror group, of stirring anger towards Rooney for commercial gain. 'Bollocks,' said Jon Brown, deputy editor of the Echo. 'For the Sun to accuse anyone of stoking things up is deeply ironic. There has been no pressure, overtly or subtly. It was a cheap shot and the staff here were furious. Fifteen years ago the Sun published something without thinking about it. They did the same this week. They turned into it more of an issue than we ever did. I'm sure there are people at the Sun now regretting prodding a stick into a hornets' nest.'
He added: 'The Sun's coverage of Hillsborough still has ramifications today in the vilification of ********, of an entire culture and community. It blackened the reputation of the city and it has still not recovered. If you go anywhere in the world Liverpool has a great reputation. If you go anywhere in England, it's different. The Sun has repeated the mass slander this week by saying Rooney is the victim of a hate campaign. There is no hate campaign. The Sun suggested there were mobs of vicious Liverpudlians gunning for Rooney and his girlfriend. The word "hate" is ridiculous. People here are proud of what he's achieved. You could ask a thousand people here if they hate Wayne Rooney and you wouldn't get a single yes.'
Pride, insularity, self-pity and living in the past have all become part of the lexicon applied to ******** by outsiders. Liverpool is in the throes of a dramatic transformation and will be European City of Culture in 2008. But confrontations such as last week's crystallise its uneasy relationship with the rest of the country. Alan Bleasdale, the writer of TV dramas including Boys from the Black Stuff, said: 'There is radical change in this city. The only time we look back is when people pick our scabs and the wounds bleed. How often have you heard ******** sentimentally wallowing in the past? Only in recent days in response to events elsewhere in the country.'

Phil Hammond, who lost his 14-year-old son Philip at Hillsborough, said: 'There are a few papers prejudiced against Liverpool. The Daily Mail printed a picture from the internet of Wayne Rooney doing a cartwheel and lots of stolen things falling out of his pockets, with the joke being: "You can take the lad out of Liverpool but you can't take Liverpool out of the lad." '
Rogan Taylor, who was chairman of the Football Supporters' Association at the time of Hillsborough, said: 'The people of Liverpool are not soft. Like Jews, Poles, blacks and others who keep getting whacked, they know who they are and who their enemies are. Liverpool is like the Poland of England.
'You should see it in the context of 150 years of prejudice from the ruling Protestant class towards the Irish Catholic settlers. The opinion columns of the Mail and Express today could easily be transported from the Times in 1845, asking questions like: "What kind of people are they? They like drinking and dancing and telling stories - what do these people think life is?" You could see the same subtext post-Hillsborough. "Why don't people take responsibility for themselves? Their culture is different from ours." The Sun splash pushed it to the limit at the end of a troubled decade.'
He added: 'Our memory is elephantine. Accusing people of robbing the dead is as close to unforgivable as you can get. If Murdoch and MacKenzie came to apologise, that would be interesting. But we haven't seen them, have we?'


A spokeswoman for Murdoch said: 'I am sure he completely agrees with the statements in the Sun.' Kelvin MacKenzie, now head of the TalkSport radio station, refused to comment last week. But in 1993 he told the Commons national heritage committee: 'I regret Hillsborough. It was a fundamental mistake. The mistake was I believed what an MP said. It was a Tory MP. If he had not said it and the chief superintendent had not agreed with it, we would not have gone with it.'
To the ongoing resentment of the Hillsborough families, neither MacKenzie nor the Sun has disclosed the identity of the source. The paper last week put assistant editor Graham Dudman on a round of radio phone-ins, in which he insisted the 1989 staff were no longer employed and pointed out that current editor Rebekah Wade was a 20-year-old student at the time. But Bleasdale said: 'The hierarchy of the Sun is different but the owner is the same, the philosophy is the same and the contempt is the same. To use a football analogy, it's just a transfer of players. You should try to forget but you should never forgive.'
Derek Hatton, the Liverpool council deputy leader-turned-radio presenter, said: 'I sat next to Rebekah Wade at a party for Max Clifford's birthday a few months ago and we were talking about Hillsborough. She didn't know that much about it, and why should she? Wayne Rooney at 18 ought to know more about it because there isn't a footballing kid of 18 in Liverpool who doesn't know exactly what happened at Hillsborough. I get a bit pissed off with people defending him. I'm the biggest fan of Wayne as a footballing genius but he has to bear some sort of responsibility.'
There are clearly some who agree. Those leaving Liverpool's Anfield ground on Friday morning were confronted by the giant words 'ROONEY SCUMBAG' daubed in white paint on the wall of a house opposite.

The war of words :

Disaster
Liverpool fans are pulled from the crush that killed 96 at the Hillsborough Stadium, Sheffield in April 1989.

Accusation
The Sun front page of 19 April 1989 claims fans dishonoured the city's dead. The source for the story has never been revealed.

Kiss and sell
Wayne Rooney sold his 'world exclusive' story to the Sun, telling of his love for fiancée Colleen McLoughlin.

Apology
The Sun devotes an entire page on Wednesday to saying sorry over Hillsborough... but upsets Liverpool all over again in the process.

rondwisan
01-08-2009, 10:43 AM
Heysel tragedy.

bagi para pendukung Liverpool, tidak ada yang lebih menyedihkan dan membangkitkan amarah mereka dibanding dengan menyebutkan tragedi yang ini. (tanpa bermaksud mengungkit luka lama)

Tragedi Heysel terjadi pada final Piala Champions Eropa tahun 1985, Mei 29. Pertandingan yang mempertemukan antara Liverpool vs Juventus itu menelan korban tewas 39 orang dimana 32 diantaranya adalah fans Juventus.

Latar belakang
Latar belakang kejadian Heysel terjadi setahun sebelumnya yaitu saat Liverpool memenangi pertandingan final Piala Eropa di Olimpico, Roma melawan AS Roma. Suporter Roma yang marah menyerbu pendukung Liverpool. Meskipun begitu, ada indikasi bahwa penyerangan itu sudah direncanakan, Liverpool menang maupun kalah, karena terbukti memang banyak pendukung Roma yang membawa senjata di mobil mereka saat pertandingan berlangsung. Pendukung Liverpool yang terluka (umumnya luka bacokan) terpaksa mengungsi ke kedutaan Inggris di Roma dan dikawal ketat menuju bandara untuk dikembalikanke Inggris.

29 Mei 1985
Stadium Heysel Belgia sebenarnya tidak layak untuk menyelenggarakan even sebesar final Piala Champions Eropa, karena kapasitasnya yang kecil. Kapsitasnya waktu itu hanya 30 ribu kursi tapi didatangi oleh sekitar 50 ribu sampai 60 ribu pendukung kedua tim. Belm lagi fasilitas keamanan yang minim dan bangunan yang sudah tua. Batas antara pendukung Liverpool dan Juvetus hanyalah dinding kawat tipis yang dijaga oleh satu lapis polisi penjaga keamanan.
sekitar jam 7 waktu setempat, mendadak serangan petasan dan roket menyerbu udara, tidak jelas siapa yang memulai serangan, tapi serangan itu mulai meluncur dari arah pendukung Liverpool ke pendukung Juventus dan begitu sebaliknya.
Perang petasan berubah menjadi perang batu saat suporter kedua kubu mulai saling lempar. Dan menjelang kick off, suporter Liverpool yang marah mulai menyerbu ke arah pendukung Juventus menerobos pagar pembatas yang memang tidak memadai. Pendukung Juventus mundur ke tembok pembatas di dekat sudut lapangan dan terjebak di sana sampai akhirnya tembok pembatas runtuh karena tidak kuat menahan beban. Pendukung Juventus yang jatuh terinjak-injak oleh kerumunan massa yang ketakutan. Di titik inilah korban tewas terbanyak. sementara di sektor Z, pendukung Juventus yang leluasa bergerak berbalik menyerbu pendukung Liverpool meskipun kemudian berhasil dicegah oleh polisi, tapi perkelahian terus berlangsung sampai pertandingan dimulai.
Korban tewas sebanyak 39 orang, 32 Italia, 4 Belgia, 2 perancis dan 1 Irlandia. sedangkan korban terluka lebih dari 600 orang.

List of victims :
* Rocco Acerra (29)
* Bruno Balli (50)
* Alfons Bos
* Giancarlo Bruschera (21)
* Andrea Casula (11)
* Giovanni Casula (44)
* Nino Cerrullo (24)
* Willy Chielens
* Giuseppina Conti (17)
* Dirk Daenecky
* Dionisio Fabbro (51)
* Jacques François
* Eugenio Gagliano (35)
* Francesco Galli (25)
* Giancarlo Gonnelli (20)
* Alberto Guarini (21)
* Giovacchino Landini (50)
* Roberto Lorentini (31)
* Barbara Lusci (58)
* Loris Messore (28)
* Gianni Mastrolaco (20)
* Sergio Bastino Mazzino (38)
* Luciano Rocco Papaluca (38)
* Luigi Pidone (31)
* Bento Pistolato (50)
* Patrick Radcliffe
* Domenico Ragazzi (44)
* Antonio Ragnanese (29)
* Claude Robert
* Mario Ronchi (43)
* Domenico Russo (28)
* Tarcisio Salvi (49)
* Gianfranco Sarto (47)
* Amedeo Giuseppe Spolaore (55)
* Mario Spanu (41)
* Tarcisio Venturin (23)
* Jean Michel Walla
* Claudio Zavaroni (28)

pasca Pertandingan
Secara umum, seluruh kesalahan ditimpakan pada pendukung Liverpool. Tanggal 30 mei 1985, pengamat dari UEFA, Gunter Schneider mengatakan "Only the English fans were responsible. Of that there is no doubt.", sementara baik UEFA, penyelengara pertandingan maupun pihak pengelola stadium Heysel sama sekali tidak disentuh. Akibatnya, tanggal 31, PM Inggris Margareth Thatcher meminta FA melarang semua klub Inggris berkompetisi di level Eropa, dan dua hari kemudian (tanggal 2 Juni) UEFA mengeluarkan larangan kompetisi di Eropa untuk seluruh klub Inggris selama waktu yang belum ditentukan. tanggal 6 juni UEFA bahkan melarang klub Inggris berkompetisi di semua level internasional (tidak termasuk Tim Nasional Inggris), Larangan ini berlangsung selama lima tahun, sedangkan khusus untuk Liverpool menjadi delapan tahun, tapi dikurangi menjadi hanya enam tahun.
27 orang menjadi tersangka dalam kejadian itu. rata-rata dijatuhi hukuman tiga tahun penjara, tapi tidak jelas berapa jumlah yang menjalani hukuman.
Stadion Heysel tidak dipakai untuk pertandingan sepak bola sampai stadion itu direnovasi tahun 1995 dan berganti nama menjadi Stadion Roi Baudoin atau King Baudoin Stadium.

..........................................

rondwisan
01-08-2009, 10:44 AM
bener2x tragis nih .... :rip
_____________________________________

Bus Pemain Jatuh ke Jurang, 8 Tewas
kompas.com - 15/10/2008 | 02:05 WIB


LIMA, RABU - Bus yang membawa pemain klub Divisi II Peru, San Cayetano, jatuh ke jurang berkedalaman 200 meter, Selasa atau Rabu (15/10) dini hari. Akibatnya, 8 orang tewas dan 22 lagi luka berat-ringan.

Menurut kantor berita Andina, saat itu bus sedang melaju. Tiba-tiba ada perampok yang mendekatinya. Bus tersebut berusaha menghindar, tapi malah terjatuh ke jurang.

Tiga korban tewas merupakan pemain San Cayetano. Kebanyakan korban luka juga pemain klub tersebut. Sedangkan dua korban tewas lainnya merupakan pemilik klub tersebut.

Klub dari Kota Celendin itu memang sedang sial. Mereka baru saja pulang dari bertanding dan kalah 0-10. Di perjalanan, malah mau dirampok dan akhirnya bus terjatuh ke jurang.
__________________________________________________ ________

kayaknya kelewatan nih news-nya ... :rip
_________________________

Lagi, Pemain Tewas di Spanyol
Okezone, Azwar Ferdian - 26 November 2008 - 16:56 wib

http://www.laszapatillasdehermes.es/wp-content/uploads/2009/02/guti.jpg

HUELVA - Sepakbola Spanyol kembali diselimuti awan mendung. Seorang pemain berusia 22 tahun, dikabarkan tewas saat bertanding, akhir pekan lalu.

Pemain yang diketahui bernama Francisco Javier Herrezuela Arroyo, atau biasa dipanggil 'Guti', tewas saat bermain untuk timnya, Olimpica Valverdena.

Seperti dilansir Goal, Rabu (26/11/2008), pemain berposisi bek itu terjatuh saat bola bergulir ke luar lapangan. Guti langsung tak sadarkan diri. Tim dokter lokal berusaha menyelamatkan nyawanya. Tapi, ia tewas sebelum tiba di rumah sakit Juan Ramon Jimenez di Huelva.

Kematian pemain ini adalah kasus yang kesekian kalinya. Sebelumnya, Antonio Puerta tewas saat bermain untuk Sevilla di La Liga musim lalu.

Pertandingan di Grup 1 Divisi Primera Andaluza antara Valverdena dan Arcos, langsung dihentikan setelah insiden tewasnya Guti.

rondwisan
01-08-2009, 10:52 AM
:rip :rip

13 Suporter Ditembak Mati
KompasBola.com - 23/2/2009 | 00:53 WIB

ABUJA, SENIN — Tragedi sepak bola kembali terjadi di Afrika. Sebanyak 13 suporter Ocean Boys tertembak mati akibat imbas dari pertikaian dua kelompok, di Ibukota Bayelsa, Jumat (20/2). Puluhan suporter lainnya luka-luka. Mereka diserang saat mendukung timnya melawan Bayelsa United.

Pejabat klub Ocean Boys menolak berkomentar, sementara pejabat Divisi Primer Nigeria, Tunji Babalola, mengatakan, "Humas Ocean Boys tidak bisa mengonfirmasi atau membantah insiden tersebut."

Namun, menurut media lokal yang terbit Minggu (22/2), memang terjadi pertikaian di antara dua kelompok pemuja, Icelanders dan Greenlanders. Pertikaian mereka terjadi sejak Jumat (20/2). Anggota suporter klub Ocean Boys, yang juga pendukung salah satu geng itu, tertembak di ibu kota Bayelsa, Yenagoa.

Peristiwa itu terjadi kala para suporter Ocean Boys akan menyaksikan pertandingan timnya di Ughelli, dekat Negara Bagian Delta. Tiba-tiba, sekelompok orang yang mengendarai mobil dan bersenjata menyemburkan tembakan ke arah mereka. Beberapa orang pun tewas dan beberapa lagi luka-luka.

Seorang suporter yang selamat mengatakan, mereka tiba-tiba diserang. Pertandingan antara Ocean Boys dan Bayelsa United digelar pada Sabtu (21/2). Ocean akhirnya menang 1-0.

--------------------------------------------------------------

:rip :rip :rip

At least 19 dead in Ivory Coast tragedy
Soccernet - March 30, 2009

http://www.detiksport.com/images/content/2009/03/30/73/AbidjanReuterslucGnago-isi.JPG

At least 19 supporters have died after a wall collapsed before Ivory Coast's World Cup qualifier against Malawi.

Ticketless fans had gathered outside the gates of the 35,000-capacity Houphouet-Boigny arena in the West African country's main city, Abidjan. There was a crush inside the stadium and a wall collapsed.

A rush by spectators led to the collapse of a wall, medical officials said. Police then fired tear gas to clear the crowd, causing a stampede which also left many people injured.

"We have 19 dead and many seriously injured," a military source at the stadium told Reuters.

The incident occurred before kick-off, however the game was allowed to go ahead.

"Spectators who did not buy tickets were jostling before the match," Sports Minister Dagobert Banzio said on state television. "They smashed one of the main gates of the stadium. They were trampled."

He put the number of injured at 132. It is believed many of the injured are in a serious condition.

The country's interior and sports ministers have been locked in an emergency meeting with leaders of the Ivory Coast Football Federation (FIF), FIF president Albert Kakou Anzouan told AFP.

The tragedy followed similar incidents which have marred international matches in Africa in the last decade, including two separate ones in Zambia and the death of 13 people in Zimbabwe nine years ago.

FIFA instigated a programme of stadium inspections across Africa before the 2010 World Cup qualifiers and Abidjan's Felix Houphouet-Boigny Stadium was passed as safe for international matches.

The stadium was sold out in advance of the game after cut-price tickets were put on sale.

Laga Pantai Gading Kontra Malawi Memakan Korban
Okezone, Defanie Arianti - 30 Maret 2009 - 06:16 wib

http://bola.okezone.com/images-data/content/2009/03/30/51/205767/EnSWnGTrr5.jpg

ABIDJAN - Laga Kualifikasi Piala Dunia 2010 antara Pantai Gading dan Malawi menyisakan tragedi. Menjelang pertandingan yang berlangsung di Abidjan, Pantai Gading itu, lebih dari 20 penonton dikabarkan tewas akibat aksi dorong-mendorong antar suporter.

Sekira 50 ribu penonton memadati stadion Houphouet-Boigny di Abidjan, Pantai Gading, guna menyaksikan tim kesayangan mereka meladeni Malawi pada lanjutan Kualifikasi Piala Dunia 2010 Zona Afrika. Sayangnya, niat keikutsertaan dalam pesta sepakbola dunia itu harus diwarnai tragedi.

Menteri Dalam Negeri Pantai Gading, Desire Tagro, menyebutkan setidaknya 22 orang tewas serta ratusan lainnya terluka tidak lama sebelum laga Pantai Gading kontra Malawi bergulir, Senin (30/3/2009) dinihari.

Menurut laporan awal, robohnya satu bagian tembok pada stadion tersebut menjadi penyebab tewasnya para suporter tersebut. Namun, beberapa laporan justru menyebut jika aksi aparat kepolisian yang menyemprotkan gas air mata menyebabkan suporter panik sehingga terjadilah aksi dorong-mendorong maut tersebut.

Aksi dorong-mendorong tampaknya sudah menjadi hal biasa bagi pecinta sepakbola di Afrika. Kapasitas stadion yang tidak terlalu besar tidak mampu menampung jumlah penonton yang membludak. Apalagi, ini merupakan laga yang cukup bergengsi untuk masing-masing klub.

Selain itu, jumlah petugas keamanan yang kurang memadai pun akhirnya tak sanggup mengendalikan para penonton, demikian dilaporkan reuters.

Pantai Gading sendiri sukses membungkam Malawi 5-0. Romaric N'dri, duo bintang Chelsea Didier Drogba (dua gol) dan Salomon Kalou, serta Bakary Kone, tampil sebagai pahlawan kemenangan.

rondwisan
01-08-2009, 10:53 AM
Tragedi Armand Cesari, Malapetaka Tak Terlupa
KOmpasBola.com - 14/3/2009 | 13:19 WIB

http://www.kompas.com/data/photo/2009/03/14/1322018p.jpg
Suporter Bastia saat mendukung timnya di Stadion Armand Cesari. Stadion ini pernah rubuh dan menewaskan 18 orang.

Tanggal 5 Mei 1992 merupakan hari yang sangat ditunggu warga Bastia. Kota kecil di Perancis ini berbunga-bunga karena timnya tampil meyakinkan. Klub yang tak pernah berprestasi tinggi ini menantang tim elite Olympique Marseille di semifinal Piala Perancis 1992.

Pertandingan pasti berjalan alot. Butuh dukungan ekstra agar Bastia memenangi pertarungan. Maklum, Marseille saat itu merupakan tim hebat. Tak hanya di dalam negeri yang saat itu Marseille sedang memimpin klasemen Ligue 1. Di kancah Eropa pun, Didier Deschamps dkk bersinar. Bahkan, tahun berikutnya menjuarai Liga Champions.

Sebab itu, warga Bastia berduyun-duyun mendatangi Stadion Armand Cesari. Kamp kebanggaan Bastia. Mereka ingin menyuntikkan semangat agar Bastia menggulingkan keperkasaan Marseille.

Tak beberapa lama, stadion yang berkapasitas 10.130 tempat duduk itu segera penuh sesak. Bahkan, jumlah penonton yang masuk jauh melampaui kapasitasnya. Diperkirakan, penonton mencapai lebih dari 15.000 orang. Jelas, nyaris tak ada ruang yang tersisa, saking antusiasnya warga Bastia mendukung timnya.

Gegap-gempita dari sorakan penonton semakin meledak, apalagi ketika kedua tim memasuki lapangan. Tingkah para penonton makin bersemangat. Teror buat Marseille, dukungan buat tim tuan rumah.

Rupanya, stadion yang dibangun tahun 1905 tersiksa. Itu tak disadari penonton dan pengelola. Hanya beberapa menit sebelum peluit kick-off ditiup wasit, stadion itu sudah tak kuasa menahan beban yang begitu berat, apalagi kondisinya sudah tua-renta.

Brak-brak-brak. Tribun sebeluah utara pun terkapar. Diawali suara gemuruh tribun yang retak secara serempak, kemudian runtuh. Teras yang berada di atasnya pun roboh menimpa ribuan orang di bawahnya.

Mimpi buruk yang tak pernah dibayangkan. Tentu saja, para penonton di tribun itu kacau-balau. Tak ada kesempatan untuk menyelamatkan diri, kecuali pasrah terhadap nasib. Tragedi yang memilukan itu akhirnya merenggut 18 jiwa, sedangkan yang luka berat dan ringan mencapai 2.300 orang.

Jumlah korban yang paling banyak dalam sejarah tragedi stadion. Hanya, untuk jumlah korban tewas tergolong sedikit. Sebab banyak tragedi sepak bola yang menelan puluhan, bahkan ratusan jiwa.

Kejadian ini disesalkan banyak orang. Panitia penyelenggara dinilai lalai karena tidak membatasi jumlah penonton. Selain itu, klub dan pemerintah daerah dinilai kurang memerhatikan perawatan stadion yang terbilang uzur.

“Tragedi paling parah yang pernah kusaksikan,” kenang Fabien Barthez yang saat itu menjadi kiper Marseille.

GELAR DIBATALKAN

Karena kejadian tersebut, partai Marseille dan Bastia pun sempat tertunda beberapa jam. Namun, panitia penyelenggara akhirnya memutuskan dibatalkan. Sebab, menolong korban lebih utama daripada meneruskan pertandingan, apalagi jumlah orang yang harus ditolong kelewat banyak.

Tak beberapa lama, petugas dan penonton lain yang selamat sudah sibuk membantu korban. Beberapa orang tertimpa reruntuhan dan sulit dikeluarkan. Mobil ambulans pun hilir-mudik membawa korban ke rumah sakit.

Sehari kemudian, klub Bastia memutuskan untuk tidak meneruskan partai semifinal lawan Marseille. Mereka memilih mundur untuk menghormati para korban, dan dengan ikhlas memberikan tiket final kepada Marseille.

Maka, partai final akan mempertemukan Marseille lawan AS Monaco, partai yang sangat elite di Perancis waktu itu. Pertandingan yang menentukan gelar juara Piala Perancis pun dilaksanakan pada 8 dan 12 Mei.

Namun, Marseille tak bisa melakukannya. Klub ini menghormati Bastia dan pendukungnya yang menjadi korban. Marseille berkeputusan untuk tidak bersedia tampil di final. Artinya, Marseille memberikan gelar kepada AS Monaco jika bersedia mengambilnya.

Monaco pun tak bisa melakukannya, demi solidaritas. Akhirnya, Federasi Sepak Bola Perancis (FFF) memutuskan untuk tidak memainkan final Piala Perancis 1992. Gelar juara dianggap tidak ada, alias kosong. Itu juga sebagai bentuk penghormatan kepada para korban Tragedi Stadion Armad Cesari. (HPR)

Info Tragedi Armad Cesari
Tanggal: 5 Mei 1992
Pukul: 16.40 waktu setempat
Lokasi: Stadion Armand Cesari, Corsica, Bastia (Perancis)
Korban tewas: 18 orang
Korban luka: 2.300 orang


Renovasi dihina Benfica

Tragedi Stadion Armand Cesari benar-benar memukul insan sepak bola Bastia, bahkan seluruh Perancis. Sebab, sebelumnya tak pernah terjadi tragedi sepak bola sehebat itu di Perancis. Maka, tuntutan agar stadion itu segera direnovasi terus bergema.

Sayangnya, keuangan Bastia tidak terlalu bagus. Meski begitu, klub tersebut terus mengupayakan renovasi. Sebab, stadion tersebut merupakan satu-satunya kamp mereka, apalagi stadion itu juga sering digunakan untuk berbagai macam kegiatan.

Hanya, renovasi yang dilakukan bertahap dan tak terlalu frontal. Salah satu dari empat tribun (tribun utama) dipertahankan karena dianggap masih layak dan memiliki nilai sejarah. Namun, tetap saja stadion ini masih terhitung sederhana dan kecil. Kapasitasnya hanya bertambah sampai 18.000 kursi, sebelumnya 10.130 kursi.

Renovasi yang dilakukan termasuk memakan waktu cukup lama, dari 1992 baru selesai pada 1996. Pada tahun 1997, Bastia mencoba melakukan pertandingan persahabatan lawan klub Portugal, Benfica. Partai ini juga untuk menyambut Stadion Armand Cesari baru.

Sayangnya, stadion yang sudah direnovasi itu masih terlihat sederhana dan kecil. Bahkan Benfica sempat menyatakan ketidakpuasannya. Menurut mereka, Stadion Armand Cesari hanya cocok untuk tempat latihan, bukan untuk pertandingan.

Tentu saja, Bastia agak tersinggung. Sebab itu, mereka berencana akan mengubah stadion itu lebih mewah. Hanya, sampai sekarang renovasi lanjutan belum pernah dilakukan karena masalah dana.

rondwisan
01-08-2009, 10:53 AM
detiksport, Doni Wahyudi - 01/04/2009 02:56 WIB
Bencana di Dalam Stadion

http://www.detiksport.com/images/content/2009/04/01/427/Heysel285.jpg
Salah satu gambar saat tragedi Haysel terjadi

Jakarta - Sebanyak 19 fans tewas akibat rubuhnya tembok stadion saat Pantai Gading menghadapi Malawi. Sepanjang sejarah sepakbola, sudah ratusan nyawa melayang sia-sia dalam stadion.

Kesembilanbelas orang yang kehilangan nyawa tersebut disebabkan rubuhnya salah satu tembok di Stadion Houphouet-Boigby, Abidjan, Senin (30/3/2009) dinihari WIB. FIFA sendiri hingga kini masih menyelidiki bencana tersebut.

Berikut beberapa bencana yang terjadi di dalam stadion dan meminta korban nyawa suporter.

Lima, Peru (24 Mei 1964): Sebanyak 318 prang terbunuh dan 500 lainnya mengalami cedera akibat kericuhan yang terjadi di National Stadium.

Buenos Aires, Argentina (23 Juni 1968): 74 nyawa melayang dan 150 orang mengalami cedera akibat berhimpitan saat suporter mencoba keluar dari stadion.

Glasgow, Skotlandia (2 Januari 1971): Sejumlah 66 orang meninggal dunia dan 140 lainnya mengalami cedera saat tembok pembatas di Ibrox Stadium rubuh saat pertandingan hampir selesai.

Moscow, Rusia (20 Oktober 1982): Dilaporkan 340 nyawa melayang dalam laga Liga Champions setelah fans mencoba memasuki kembali stadion dan saling berhimpitan dengan fans lainnya.

Bradford, Inggris (11 Mei 1985): 56 orang terbunuh saat sebatang rokok menyulut api pada tribun penonton yang terbuat dari kayu dan kemudian memicu kebakaran.

Brussels (29 Mei 1985): Ini merupakan salah satu peristiwa kelam paling terkenal dalam sejarah sepakbola modern yang kemudian disebut sebagai Tragedi Heysel. Sebanyak 39 fans tewas sebelum laga final Liga Champions antara Liverpool kontra Juventus akibat penyerbuan Liverpudlian terhadap Juventini. Menyusul kejadian tersebut, klub Inggris dijatuhi sanksi cekal di kompetisi Eropa selama lima tahun.

Katmandu, Nepal (12 Maret 1988): Setidaknya 93 orang meninggal dunia dan lebih dari 100 lainnya mengalami cedera saat fans berusaha keluar dari pintu stadion yang terkunci menyusul datangnya hujan es yang disertai angin kencang.

Sheffield, Inggris (15 April 1989): Sebanyak 96 fans Liverpool tewas dalam peristiwa yang kemudian dikenal sebagai Tragedi Hillsborough menjelang laga semifinal Piala FA antara Liverpool kontra Nottingham Forest.

Guatemala City (16 Oktober 1996): 84 orang tewas dan 150 lainnya mengalami cedera akibat fans yang saling berdesakan jelang laga kualifikasi Piala Dunia.

Harare, Zimbabwe (9 Juli 2000): 13 fans tewas setelah polisi menembakkan gas air mata pada fans dalam upaya menghindarkan melebarnya kerusuhan yang terjadi.

Johannesburg, Afrika Selatan: 43 orang terbunuh sementara 155 orang mengalami cedera saat fans mencoba memaksa masuk ke dalam stadion yang sudah terisi penuh.

Accra, Ghana (9 May, 2001): Setidaknya sebanyak 123 orang tewas akibat saling berdesakan setelah polisi gas air mata ke tribun penonton sebagai aksi balasan setelah penonton lebih dulu melemparkan botol dan kursi ke dalam lapangan. Peristiwa ini disebut-sebut sebagai bencana terburuk dalam stadion yang terjadi di Afrika.

Abidjan, Pantai Gading (29 Maret 2009): Ribuan orang memaksa masuk menyaksikan laga Pantai Gading menghadapi Malawi yang menyebabkan rubuhnya salah satu sisi stadion dan meminta korban 19 orang tewas sementara lebih dari 100 lainnya mengalami luka-luka.