View Single Post
Old 10-12-2015, 11:27 AM   #7
United Indonesia
Management
 
United Indonesia's Avatar
 
Join Date: Oct 2010
Posts: 260
Thanks: 17
Thanked 1,303 Times in 118 Posts
Mentioned: 18 Post(s)
United Indonesia has a spectacular aura aboutUnited Indonesia has a spectacular aura about
Default Re: Apa Kata Member United Indonesia #UISharing

Tittle: Tersingkir dari Liga Champions, Hal Positifnya adalah ...
Link: http://www.unitedindonesia.org/new/n...tail.php?id=23
Oleh: Dex Glenniza / t: @dexglenniza / asal chapter: @utdindonesiabdg

Quote:
Tersingkir dari Liga Champions, Hal Positifnya adalah ....
Oleh: Dex Glennıza|@dexglenniza

Manchester United harus tersingkir dari Liga Champions UEFA setelah mereka takluk 3-2 dari tuan rumah VfL Wolfsburg di matchday terakhir kompetisi terbesar di Eropa tersebut. Hasil pertandingan itu, ditambah hasil kemenangan 2-1 PSV Eindhoven atas CSKA Moscow, membuat Man United harus puas menduduki peringkat ketiga di grup B sekaligus terlempar ke Liga Europa UEFA, kompetisi Eropa kasta kelas dua di bawah Liga Champions.

Bagi kita para pendukung “Setan Merah”, kita mungkin akan sangat kesal dengan hasil negatif ini, apalagi jika teman-teman dan rekan-rekan mulai meledek “Setan Merah” yang “memenuhi takdirnya ke Liga Malam Jumat” (Anggapan umum bahwa malam Jumat banyak setan berkluyuran).
Liga Europa memang sudah terkenal dengan ledekannya sebagai “Liga Malam Jumat”, karena pertandingan pada kompetisi ini dimainkan pada Kamis malam (malam Jumat) waktu Eropa, atau Jumat dini hari jika kita konversikan ke Waktu Indonesia Barat (WIB).

Jika kita semua sedang kesal-kesalnya, sedang kecewa-kecewanya dengan Louis van Gaal, atau sedang sebal-sebalnya karena kesebelasan favorit kita ini terus diledek oleh banyak orang, kemudian mulai mencari pelarian atau pembenaran; sebenarnya kita bisa melihat hal positif dari tersingkirnya United dari Liga Champions.

Manchester United belum pernah menjuarai Liga Europa

Ada lemari trofi yang besar di Old Trafford, lemari tersebut berisi lengkap dengan banyak trofi, mulai dari 13 gelar Liga Primer Inggris, 7 First Division (sebelum berganti nama menjadi Liga Primer), dua Second Division (kompetisi kasta kedua di Inggris sebelum namanya berganti menjadi Football League Championship), 11 Piala FA, empat Piala Liga, 20 piala Charity/Community Shield, tiga Liga Champions (atau pada masa lalu dikenal dengan nama Piala Eropa), satu Piala Winner’s, satu Piala Super Eropa, satu Piala Intercontonental, sampai satu gelar Piala Dunia Antarklub.

Koleksi piala United memang sangat mentereng, yang menegaskan bahwa kesebelasan ini adalah salah satu kesebelasan tersukses di dunia. Sebenarnya daftar piala yang pernah United raih masih banyak lagi jika kita memasukkan piala seperti International Champions Cup. Namun, sadarkah kalian jika masih ada satu piala yang belum melengkapi lemari trofi tersebut?

Ya, trofi yang kurang tersebut adalah trofi atau piala dari kompetisi Liga Europa (atau UEFA Cup atau juga setara dengan Inter-Cities Fairs Cup di masa lalu). “Setan Merah” belum pernah sekalipun menjuarai kompetisi kasta kedua di Eropa tersebut. Jadi, jika kita harus mengambil hikmah dari tersingkirnya United dari Liga Champions dan terlempar ke “Liga Malam Jumat”, hal positif yang bisa kita dapatkan adalah bahwa ini lah kesempatan emas United untuk melengkapi lemari trofinya dengan trofi Liga Europa!

Sejarah United di liga kasta kedua Eropa

Sepanjang sejarahnya sejak didirikan pada 1878, United hanya pernah 11 musim berlaga di kompetisi Eropa selain Liga Champions, termasuk sekali menjuarai Piala Winner’s pada musim 1990/91. Di Liga Champions sendiri, United sudah juara sebanyak tiga kali (1967/68, 1998/99, dan 2007/08) dengan memengangkan sekitar 56% dari total 261 pertandingan mereka.

Sedangkan jika kita mengerucutkan partisipasi United di Piala UEFA, Liga Europa, atau Inter-Cities Fairs Cup, United sudah memainkan 35 pertandingan dengan memenangkan 13 di antaranya, imbang 13 kali juga, dan kalah 9 kali. Rasio kemenangan mereka jauh lebih sedikit dibandingkan ketika mereka bertanding di Liga Champions, yaitu hanya 37,14% saja.

Terakhir kali United berlaga di Liga Europa adalah ketika mereka disingkirkan oleh Athletic Bilbao di babak 16 besar pada musim 2011/12. Sementara saat terdekat mereka untuk meraih trofi juara adalah ketika mereka berkompetisi di Inter-Cities Fairs Cup 1964/65. Saat itu mereka kalah oleh Ferencváros dari Hungaria di semi-final.
Dari sejarah di atas, kita bisa menyimpulkan bahwa United memang sangat jarang terlempar ke kasta kedua Eropa, pun sekalinya United terlempar, United hampir tidak pernah serius memainkan laga-laga di kompetisi tersebut.

Kalau dibandingkan dengan Liverpool, Chelsea, atau Tottenham Hotspur misalnya, mereka setidaknya pernah menjuarai “turnamen Eropa yang tidak bergengsi tersebut”. Ipswich Town saja pernah juara pada 1980/81. Bahkan dalam dua dekade terakhir, ada tiga kesebelasan asal Inggris yang menjadi runner-upatau finalis, mereka adalah Arsenal, Middlesbrough, dan Fulham.

Jadi, ini saatnya United untuk (setidaknya sedikit) lebih serius di Liga Europa. Kita boleh optimis, jika tidak musim ini (meraih trofi Liga Europa), kapan lagi?

Hati-hati dengan Liga Europa

Kompetisi sepakbola adalah olahraga yang menuntut fisik dan mental atlet-atletnya. Bayangkan, jika satu kesebelasan di Eropa harus bermain pada tengah pekan di kompetisi Eropa, dan harus bermain lagi di akhir pekan di kompetisi domestik.
Selain berefek pada performa (kemungkinan menderita kekalahan yang akan semakin besar), bahkan jika pun kedua pertandingan dilaksanakan di kota yang sama, misalnya keduanya sebagai tuan rumah, risiko kelelahan dan cedera tetap saja meningkat.
Beberapa cedera pada sepakbola modern memang tidak melulu karena kontak fisik. Sekarang ini risiko cedera semakin tinggi karena faktor-faktor non-kontak-fisik misalnya kelelahan. Kelalahan fisik dan mental sangat berpengaruh dari kompetisi dan juga jumlah latihan.

Secara umum, kelalahan dapat terjadi ketika jarak pertandingan satu ke pertandingan lainnya sangatlah singkat untuk standar waktu pemulihan (recovery).
Riset dari Gregory Dupont dkk dari Lille University dan Celtic Lab pada tahun 2010 menunjukkan bahwa memainkan dua pertandingan dengan jarak 3-4 hari untuk pemulihan akan meningkatkan kemungkinan penurunan performa dan risiko cedera.
Di atas kertas dan atas nama sains, mungkin Unitedakan mengalami kerugian besar dari jadwal pertandingan Liga Europa yang terlalu dekat dengan Liga Primer.

Ini memang risiko yang harus dihadapi oleh mereka yang berlaga di Liga Europa karena mereka harus bermain pada Kamis malam (atau Jumat dini hari WIB) dan harus bermain kembali pada akhir pekan, bisa pada Hari Sabtu maupun Minggu, atau jika beruntung mereka bisa memainkan pertandingan berikutnya pada Hari Senin malam (Selasa dini hari WIB).

Ini lah kenapa beberapa kesebelasan di Liga Champion mati-matian untuk lolos dari fase grup ke 16 besar, atau lebih memilih peringkat juru kunci saja daripada harus menduduki peringkat tiga dan berlaga di Liga Europa yang sangat menuntut fisik dan mental.
Kenapa United harus serius dan menjuarai Liga Europa?

Hal di atas mungkin menjadi kewaspadaan ekstra untuk pasukan Louis van Gaal. Tapi saya pribadi berharap United bisa lebih serius di Liga Europa musim ini.
Bagaimanapun, ini adalah kesempatan emas untuk United melengkapi koleksi trofi mereka. Lagipula sekarang ini ada ketentuan khusus yang membuat juara Liga Europa lolos secara otomatis ke fase grup Liga Champions, seperti Sevilla yang musim lalu juara Liga Europa sehingga lolos langsung ke fase grup Liga Champions musim ini.

Jadi, secara ketentuan (bukan secara finansial, ya), juara Liga Europa sama dengan peringkat satu, dua, atau tiga Liga Primer, yaitu lolos langsung ke fase grup Liga Champions, alias tak perlu repot-repot melakoni babak play-off seperti yang United lakukan musim ini (melawan Club Brugge).

Selain itu juga, juara Liga Europa berhak untuk berlaga di Piala Super Eropa menghadapi juara Liga Champions. United sendiri meskipun pernah tiga kali berlaga di Piala Super Eropa, tetapi hanya pernah menjuarainya sebanyak satu kali, yaitu pada tahun 1991 sesaat setelah mereka juara Piala Winner’s. Saat itu, United mengalahkan Red Star Belgrade dari (negara almarhum) Yugoslavia dengan skor 1-0.

Bagi para suporter “Setan Merah”, jangan berkecil hati karena sekarang ini kita selevel dengan Liverpool, Spurs, Southampton (tersingkir di third qualifying round Liga Europa), dan West Ham United (tersingkir di first qualifying round Liga Europa), bahkan Chelsea dan/atau Arsenal bersiap menyusul juga jika mereka tidak lolos ke babak 16 besar.
Justru ini lah kesempatan emas bagi kesebelasan tercinta kita untuk melengkapi koleksi trofi sekaligus lolos langsung ke fase grup Liga Champions musim depan.

Tersingkir dari Liga Champions, hal positifnya adalah: ada satu trofi yg belum ada di lemari Manchester United, trofi tersebutbukan lain yaitu trofi UEFA Cup atau Europa League. Biarkan para haters meledek, bagi kita: jangan sungkan untuk berkoar “Karena setan banyak berkluyuran pas malam Jumat, maka Setan Merah adalah rajanya Liga Malam Jumat!”
United Indonesia is offline   Reply With Quote